Sesekali Jadilah Pendengar Saja

Di setiap pergantian tahun, Tarjo selalu memimpikan sebuah hal : sebuah pertemuan informal yang melibatkan sebanyak mungkin karyawan di tempatnya bekerja. Sebuah pertemuan informal saja, karena dampak psikologisnya bisa luar biasa. Hari itu, seluruh atribut atasan dan bawahan ditanggalkan sekedar untuk menyamakan posisi duduk, sehingga setiap orang merasa menjadi bagian penting pertemuan itu, tidak peduli berada di posisi mana dia dalam piramid organisasi yang gendut seperti perut Tarjo.

Sekali lagi, hanya sebuah pertemuan informal saja. Mengadakannya mungkin mudah. Namun menjadikannya sebagai sebuah pertemuan yang menyejajarkan semua orang, rasanya Tarjo agak pesimis, meskipun demikian mendambakannya. Beberapa karyawan, bahkan atasan cenderung berperilaku pendendam dan mudah membuka aib di depan khalayak. Bahkan untuk aib yang tidak seutuhnya diketahuinya. Beberapa orang lainnya, bahkan pemegang kewenangan tertentu lebih suka tidak pedulian dan hanya memikirkan nasibnya sendiri. Dan hal itu diketahui benar oleh banyak orang, hingga beberapa orang itu miris untuk berkata berbeda dan sekedar memberikan masukan, meskipun diijinkan.

Tapi, sebenarnya untuk apakah Tarjo demikian ingin pertemuan informal itu terjadi? Tarjo, ~sekali lagi, hanya dirinya yang dia sebut, karena Tarjo tidak berani merasa mewakili siapapun~ merasa ada yang tidak berjalan dengan baik dalam organisasi ini. Dalam sebuah pertemuan, Tarjo pernah mendengar seorang petinggi bicara, bahwa ada pengelolaan SDM yang salah di sini. Bisa jadi karena SDMnya memang demikian parah. Bisa jadi karena pengelola (baca:Manajemen) yang tidak mampu mengelola. Bisa jadi juga, SDMnya yang sulit dikelola. Tarjo, dengan tabiat pembangkang yang sudah mendarah daging, mungkin termasuk dalam pilihan terakhir itu.

Seorang petinggi lainya berbicara dengan lantang, ada yang tidak bisa bekerja atau tepatnya tidak bekerja. Buktinya pertumbuhan negatif terus terjadi. Jadi, kerjanya apa saja?. Tarjo ingin membuktikan, bahwa banyak orang, sangat banyak karyawan yang bekerja dengan baik, namun tidak memberikan manfaat maksimal. Namun, Tarjo yang berfikir sederhana itu, masih bingung membuktikannya. Tentang revenue yang terus terjun bebas, misalnya. Adakah yang mencoba menganalisis, mengapa terjun bebas. Atau adakah juga yang mencoba menganalisis, mengapa kadang-kadang naik dengan tertatih-tatih. Revenue adalah seperti sebuah persamaan dengan banyak variable. Setiap variable bisa jadi berdiri sendiri, bisa jadi saling bergantung. Misalnya, siapakah yang bisa memaksa kita tetap menggunakan telepon rumah yang ribet, sementara seseorang dengan sangat nyaman menggunakan handphone? Atau siapa yang bisa memaksa seseorang untuk menelepon, jika memang tidak ingin menelepon?

Kembali ke pertemuan itu. Pertemuan itu digagas untuk memberikan ruang yang cukup bagi siapa saja, tidak peduli di mana posisinya dalam organisasi perut gendut itu, untuk berbicara tentang apa saja, selama untuk kemajuan organisasi. Tidak perlu ada arahan dari pimpinan, yang kadang justru tidak menumbuhkan semangat, namun melemahkannya. Tidak perlu protokoler apapun, kecuali seorang moderator yang handal membawa suasana.

Hari itu, Tarjo bermimpi, orang-orang yang selama ini banyak bicara, diam sesaat dan menjadi pendengar saja. Ya, hanya menjadi pendengar saja. Mencatat dalam notes kumal yang selalu dibawa atau communicator paling canggih. Tanpa dendam. Tanpa mencatat nama dan NIK, kecuali untuk tujuan memberikan penghargaan atas keberaniannya berbicara. Usai pertemuan, lantas membacanya ulang dan berkenan menarik sebuah kesimpulan bijaksana.

Tarjo tengah bermimpi. Namun, dia berharap tidak. Dia berharap seseorang berkenan mewujudkan mimpinya yang sederhana itu. Semoga masih tersisa keberanian untuk itu. Untuk sekedar bermimpi.

1 Komentar »

  1. purwatiwidiastuti said

    lha iya ya…jadi pendengar itu koq ya sulit…..

    purwati
    http://purwatining.multiply.com

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: