Cinta yang tidak Menuntut Balas

Para sahabat, tulisan ini tidak ditujukan kepada siapapun, kecuali sebagai ungkapan permohonan maaf kepada para sahabat tercinta. Juga Mas Harri yang telah mengilhami saya dengan menulis kalimat sederhananya, “beginilah caraku bersahabat …”

Pagi ini, usai mengantar Zulfa ke sekolah (hari Rabu ini jadwalnya sholat Dhuha di sekolah), aku masih sempat nonton HBO. Tinggal sisanya saja, karena toh sebagian awalnya telah kutonton sebelumnya. Judulnya : Welcome Home Roscoe Jenkins. Ceritanya sengaja tidak kushare di sini, karena memang bukan bagian ceritanya yang menyentuh, namun sebuah kalimat akhir yang disebut oleh Resccue kepada ayah ibunya, kepada kerabatnya dan kepada sahabatnya yang hadir dalam pesta emas pernikahan orang tuanya. Kalimat itu adalah, “terima kasih untuk cinta kalian semua, cinta yang tidak menuntut balas“.

Pagi ini juga, aku menerima SMS dari seorang sahabat. SMS itu, jujur saja menyinggungku. Mungkin karena aku memang terlalu sensitif (sekali lagi, thanks Mas Harry). Tapi, kali ini ketersinggunganku adalah ketersinggungan yang positif, sebagaimana maksud sahabatku berkirim SMS, pastilah sesuatu yang positif. SMSnya berbunyi : Lapangkan selalu hati kita, karena apa yang dibangun oleh akal yang luas dapat dihancurkan oleh hati yang sempit.

SMS itu tentu tidak hanya ditujukan untukku (bukan begitu, Sahabat?), namun ditujukan bagi setiap kita. SMS itu menyinggungku, yang pertama, karena akalku tidak cukup luas untuk dapat membangun sesuatu yang besar. Namun, SMS juga menyinggungku soal, bahwa adalah benar hatiku masih sangat sempit hingga terlampau sering meruntuhkan bangunan yang dibangun oleh akal yang luas yang dimiliki para sahabat. Jadi, saya memang harus berterima kasih padanya.

Kembali soal Cinta yang tidak Menuntut Balas, kedua ceritaku di atas mengisyaratkan sebuah kesadaran kecil dari keterlenaan panjang tentang tuntutan dalam sebuah hubungan, seperti apapun hubungan itu. Aku terlampau sering menuntut, emailku direspon dan dibalas, tiap SMSku dibalas, tiap teleponku diangkat atau apapun bentuknya. Dan hari ini, aku sadar, itu salah. Jika aku mencintai sahabatku, maka aku tidak boleh menuntut mereka apapun, karena persahabatan seperti halnya cinta adalah sebuah kekuatan untuk memberi, tanpa sedikitpun keinginan untuk meminta. Alhamdulillah, aku sadar, dan harus memulainya, serta menjaganya tetap istiqamah.

Seorang sahabat, ketika kami diskusi tentang hal ini, bertanya, bagaimana sebuah cinta dibuktikan? Aku tersenyum dan menjawab, “ternyata sebuah CINTA tidak membutuhkan BUKTI apapun, karena dia ada begitu saja … ” Adalah menjadi hak para sahabat untuk memilih sikap. Mas Harry memilih berkata, “beginilah caraku bersahabat”. Mungkin Anda bersikap berbeda, namun kita tetap akan dikenang sebagai bagaimana kita bersahabat. Tidak saja hari ini, tapi juga suatu saat nanti.

Hari ini juga, aku mohon maaf untuk kesalahanku selama ini. Semoga tidak terlambat untuk sebuah permohonan maaf …

image : http://www.latmanhasit.co.uk/

3 Komentar »

  1. Nok Endut said

    Sahabat buat saya adalah orang yang namanya senantiasa selalu ada dalam doa-doa saya, selalu ada buat saya meski tidak berujar apa-apa..
    so, saya setuju dengan yang Bapak tulis hari ini bahwa “persahabatan seperti halnya cinta adalah sebuah kekuatan untuk memberi, tanpa sedikitpun keinginan untuk meminta”

    • moumtaza said

      Nok Endut? emang udah jadi endut sekarang Nok?

  2. D said

    Selamat datang dalam lautan cinta. Kemana aja selama ini?🙂

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: