Butterfly on a Wheel

film-butterfly-on-a-wheel-oHari Sabtu ini aku menyengaja di rumah. Biasanya, hari ini jatahku mengantar anak-anak sekolah. Tapi, pas mau membuka pintu belakang dan mengeluarkan motor, tanganku masih, bahkan malah, terasa sakit. Usai kemarin jatuh terpeleset bersama motor di jalanan yang licin karena hujan dan oli, aku memilih istirahat. Ada beberapa SMS pekerjaan yang kudisposisikan kepada kawan-kawan. Ada pula SMS pemberitahuan kecelakaan kecilku kepada seorang sahabat yang dijawab dengan SMS sederhana, “… tapi gak papa kan …”

Usai terlelap sebentar karena nyeri yang tak tertahankan, aku menikmati sebentar film Butterfy on a Wheeldi Star Movie. Letih rasanya menikmati TV hanya dengan berita KPK dan Kepolisian. Hanya sekedar beralih, sebenarnya. Pierce Brosnan, bintangnya. Tampil berbeda dari biasanya, dengan kebengisan yang luar biasa sebagai penculik. Akhirnya, di ujung cerita, kebengisan itu justru luruh oleh kegalauan dan kegelisahan yang luar biasa.

Butterfly on a Wheel seolah-olah film drama penculikan yang menegangkan. Kusebut seolah-olah, karena semuanya sandiwara belaka. Ini, bahkan, petikan dari Lampung Pos :

FILM ini dibintangi Pierce Brosnan, Maria Bello, Gerard Butler, dan Callum Keith Rennie. Mengisahkan tentang keluarga muda Chicago, Neil Randall (Gerard Butler) dan istrinya Abby Randall (Maria Bello). Mereka memiliki kehidupan pernikahan yang sempurna dan ketenangan bersama putri semata wayang mereka, Shopie (Emma Karwandy), yang berusia lima tahun.

Saat itu Neil, seorang eksekutif marketing, tengah berada di puncak karier dan ia tak kuasa menolak undangan bosnya untuk menghabiskan akhir pekan di sebuah vila. Sebuah rumor sempat beredar bahwa siapa pun yang diundang si bos ke vilanya, biasanya akan dapat promosi jabatan. Padahal saat itu adalah hari ulang tahun Abby, istrinya yang penuh kasih sayang dan cantik.

Dengan alasan tidak ingin mengacaukan kesempatan untuk promosi jabatan itu, rencana pun disusun. Neil memenuhi undangan bosnya, Abby bersenang-senang bersama temannya, dan si kecil Shopie diurus oleh pengasuh sewaan.

Akhir pekan itu tiba. Setelah babysitter tiba, mereka berdua pun pergi mengendarai mobil. Neil berencana mengantar Abby ke tempat temannya sebelum dia berangkat ke luar kota. Tiba-tiba saja, dari jok belakang Range Rover itu, muncul Tom Ryan (Pierce Brosnan), sang psikopat yang menyatakan telah menculik Shopie.

Dari jok belakang, Ryan membuat Neil dan Abby harus menuruti semua perintahnya, yang kadang tak masuk akal. Aku hampir tidak percaya menyaksikan bagaimna film ini berujung.

Aku bahkan memilih untuk tidak mencatatnya di sini, dan membiarkan Anda melihatnya suatu saat. Aku lebih tertarik sebuah bait puisi di dalam sebuah buku yang telah dipersiapkan sang penculik di atas sebuah gedung bertingkat. Buku puisi karya Alexander Pope, Epistle to Dr Arbuthnot. Butterfly on a Wheel adalah seuntai kalimat di dalamnya. Dalam baris ke-308 puisi tersebut, Pope menuliskan “Who breaks a butterfly upon a wheel”. Mematahkan kupu-kupu di atas roda adalah interpretasi untuk sebuah pertanyaan, mengapa seseorang melakukan usaha yang merusak demi mendapat sesuatu yang kecil bahkan sama sekali tidak penting.

Ya, betapa banyak kita telah melakukan banyak hal merusak ~bahkan seringkali dilakukan dengan sungguh-sungguh~ untuk sesuatu yang tidak berarti …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: