Saya tentang Bekasi (#1)

Perkenalanku dengan Bekasi adalah ketika SD, kelas 4 mungkin, melalui puisi Karawang Bekasi karya Chairil Anwar. Puisi yang sempat menuai kontroversi itu kubaca keras-keras di depan kelas. Dari peta Pulau Jawa, kemudian aku tahu Bekasi. Aku juga kemudian sadar, jarak yang ditempuh para pejuang itu, Karawang – Bekasi sungguhlah panjang dan berat. Dari Aku Sang Binatang Jalang, Remisilado, membukakan mataku tentang perjalanan itu.

Perkenalan selanjutnya adalah ketika aku menjadi bagian dari sebuah perusahaan telekomunikasi. Kantor kecil kami di Purwakarta adalah bagian dari Kantor Daerah di Bekasi. Bahkan di tahun 2001 hingga 2006, aku menikmati perjalanan, hampir tiap hari dari rumahku di Purwakarta menuju tempat kerjaku di Bekasi.

Awal Agustus lalu, usai menikmati kenyamanan bekerja di Purwakarta, aku dimutasikan ke Cibitung. Nostalgia itu muncul lagi, dilampiri semangat. Berangkat kerja, sepagi apapun itu, tergantung bus Bandung (atau Tasik dan Garut)-Bekasi. Biasanya antara pukul 05.30 – 06.30. Lewat itu, lewat sudah absen hari itu. Pernah suatu masa, aku menunggu bus hingga lebih dari 1 jam di depan gang rumahku.

Aku lebih sering turun di pintu tol Bekasi Timur dan melanjutkan perjalanan dengan ojek ke Kampung Utan. Sebenarnya aku bisa turun di bawah jembatan tol Setu, tapi tidak semua bus mau berhenti di sana. Ada patroli yang siap menjaga.

Pagi di Bekasi, sebagai kota penyangga Ibu Kota adalah pagi yang sibuk. Pagi yang jalan-jalannya dipenuhi motor. Penuh, sepenuh-penuhnya …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: