Rembulan Keempat Belas

Catatan #8 tentang Ramadhan

rembulanRembulan keempat belas Ramadhan telah melewati puncak malam. Cahyanya membinar di langit yang gelap. Duh, aku malu pada keindahannya, pada ketaatannya, pada kesetiaanya menjelajah malam gulita. Sedang aku ? Aku terjerembab di ujung dusta jiwa, amarah dan getaran rasa …

Hari ini aku kalah. Kalah menghadapi shaumku yang mestinya membawaku pada kesempurnaan taqwa : ketakutan pada Allah dan keberhati-hatian bersikap. Aku kalah …

Belum lagi matahari memuncaki hari, aku tergoda getaran rasa. Bahkan ketika kulantunkan tadarus usai Dhuhur yang panas dan menggoda mata. Tadarusku melemah di ujung juz yang sama di hari itu. Duhai, betapa lemah hati ini …

Dan ketika matahari telah renta di ujung hari yang melelahkan, amarahku justru menggelegak. Duh, ke mana shaumku berujung, jika kulewati hari dengan kekalahan demi kekalahan?

Dan di puncak malam, aku memilih menangisi hariku, meratapi lemahnya hatiku, mengutuki ketakberdayaanku. Aku tersalah dan terjerembab dalam nista …

Ya Allah
aku datang padaku dengan dosa sepenuh langit
mengingkari ni’matMu yang sepenuh semesta

Ya Allah
aku malu meminta
tapi, ijinkan ku mengemis ampura
untuk setiap dosaku
untuk setiap dosa saudara yang kusakiti dan berhak atas balas padaku
untuk setiap dosa …

1 Komentar »

  1. dan ku coba ajak rembulan berpandang-pandangan.. siapakah yang mampu bertahan untuk tak berkedip?

    sang rembulan takkan pernah berkedip, karena dia selalu memandang Tuhannya

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: