Kompak

Catatan #5 tentang Ramadhan

Meski sama-sama perempuan, bersaudara pula, Zulfa dan Zakya sangat sulit kompak. Bahkan di bulan yang mulia ini. Namun, ada dua hal yang mereka sangat kompak. Kekompakan pertama adalah soal makan pas buka. Kompak untuk tidak berhenti mengunyah sampai kekenyangan. Aku sejak kecil dulu memang terbiasa langsung makan besar, dan itu terbawa hingga kini, menurun dengan sempurna pada dua anakku.

Mereka berdua memulai berbuka dengan menyeruput es sirup. Habis itu menyantap makan besar plus hidangan penutupnya. Aku dan Ummunya harus memelototinya untuk beranjak mengambil air wudhu dan sholat jamaah maghrib. Pelototanku biasanya mujarab, namun bukan berarti tradisi makan berakhir. Mereka akan terus makan dan minum usai sholat, biasanya sambil nonton Para Pencari Tuhan.

Kekompakan kedua adalah ketika mereka sama-sama menolak, minimal menunda waktu sholat malam jamaah. Aku biasanya ke Masjid dulu untuk jamaah Isya, lantas pulang, dan biasanya mereka belum siap. Bahkan usai kutinggalkan sebentar untuk tadarus bareng Ummunya, mereka belum juga siap. Biasanya pelototanku akan ditambah suara dan barulah mereka bersiap.

Aku cuma bisa tersenyum, seperti itulah juga aku dulu …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: