Hidup itu Memberi Sebanyak-banyaknya…

Pernah nonton film Laskar Pelangi, kan? Bagus! Sungguh-sungguh bagus. Ketika nobar di Bekasi dulu, teramat banyak penonton yang menangis. Pasti untuk alasan yang berbeda. Aku? Aku tidak menangis, karena memang nontonnya juga tidak fokus benar saat itu. Maklum, bagian dari panitia yang harus mempersiapkan banyak hal.

Pekan lalu, aku berkesempatan menonton kembali di rumah. DVDnya telah beredar, entah asli, entah bajakannya. Kali ini aku dapat menikmatinya lebih baik. Namun, tetap saja aku tidak menangis. Hanya agak merinding mendengar sebuah monolog Pak Harfan. Monolog ini bahkan diulang hingga dua kali. Sekali, ketika menutup kisahnya tentang Perang Badar kepada murid-muridnya di halaman sekolah. Sekali lagi, monolog imajiner murid-muridnya, ketika didera masalah. Monolog itu adalah. “Hidup itu memberi sebanyak-banyaknya, bukan meminta sebanyak-banyaknya“.

Sungguh, monolog itu, bagian terbaik yang bisa kuambil dari film itu, di antara puluhan, mungkin ratusan bagian baik lainnya. Hidup itu memberi, dan aku merasa sangat sedih karena belum dapat melakukannya. Memberipun dengan banyak harapan akan menerima sebanyak-banyaknya. Duh, sudah memberinya sedikit, memintanya yang banyak.

Aku malah masih lebih sering meminta terlalu banyak. Untuk sedikit kerja keras yang bisa kupersembahkan, aku telah meminta terlalu banyak. Fasilitas, kelebihan kenyamanan dan keistimewaan. Bahkan untuk kerja keras yang tidak menghasilkan apa-apa …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: