Mereka lebih Mulia

Malam tadi, aku keluar untuk nyari makanan bareng duo Moumtaza. Mamanya memang belum dapat berdiri lama untuk memasak buat kami. Jadilah kami beli mie goreng dan capcay. Usai mengirimkan SMS selamat jalan bagi seorang sahabat yang telah pergi teramat jauh, kami didatangi seorang pengamen waria. Zakya sampai melongo melihatnya. Kakaknya diam saja. Kepada Zakya kutitipkan uang 1000 dan disampaikannya. Pengamen itu berterima kasih teramat dalam. Kusaksikan dari mata dan wajahnya, meski tertutup bedak tebal.

Beberapa orang di sekitar warung Nasi Goreng itu melihat pertunjukkannya. Beberapa mencibir. Beberapa lagi berbisik-bisik. Rasanya, banyak yang masih memandang rendah para pengamen waria. Ya, mereka hanya berjoget erotis, bahkan tidak menyanyi.

Aku memilih tertunduk saja, usai menyaksikan pertunjukan itu. Sebuah pertunjukan lengkap dengan aplausnya (meskipun dalam bentuk cibiran dan bisikan). Aku memilih tertunduk aja, karena aku merasa mereka lebih mulia dari aku dalam menjemput rizqi.

Mereka, para pengamen itu, pastinya percaya, bahwa rizqi harus dijemput, bagaimanapun caranya. Beberapa orang di antara kita mungkin punya kesempatan untuk menjemput rizqi di perusahaan tempat dia bekerja dengan cara halal dan terhormat. Beberapa lagi tidak berkesempatan sama sekali. Dan ketika kesempatan itu ada, seringkali dilalui dengan cara yang tidak halal dan terhormat.

Kita, aku saja barangkali, merasa tidak lebih mulia dari mereka. Mereka lebih mulia dariku, karena mereka merasakan betul tiap lelehan keringat yang keluar dari tubuh mereka untuk 1000 atau 500 uang yang mereka terima. Mereka tidak mendzalimi siapapun untuk itu karena mereka tidak memaksa untuk terus meminta. Mereka tidak berusaha mencari lebih dari apa yang semestinya mereka terima dengan cara seperti apapun itu.

Kita, aku saja barangkali, masih merasa tidak lebih mulia dari mereka. Kita, aku saja barangkali, masih mendzalimi para pekerja dengan mencatut sebagian rizqi mereka. Kita, aku saja barangkali, masih mencari celah untuk mendapatkan kenyamanan lebih, lebih banyak dari yang semestinya aku terima. Kita, ah … aku saja barangkali, masih diam-diam mempersiapkan banyak hal untuk curang yang seringkali justru dibalut dalam kepatutan.

Bagiku, mereka tetap lebih mulia dariku …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: