Terpisah dari Ummu Moumtaza

Catatan #8 Perjalanan Umrah

Telah beberapa kali, Ummu Moumtaza minta diantar ke multazam. Dia ingin mengulang kenangan haji ketika menangis, mengadukan keluh, mengaku dosa dan memanjatkan doa di tempat mustajabah itu. Dan malam itu, usai sholat maghrib (kami terbiasa tetap berada di Masjidil Haram waktu maghrib dan isya), kami menuju ke tengah masjidil haram. Penuh.

000_kabah_03

Kepadanya, saya pastikan sekali lagi dan dia berkeras, sambil terus berjalan dan berucap, “bismillah”

Kami bergandengan menuju ke Ka’bah. Menyeruak di antara keramaian jamaah tawaf. Saya menggumamkan doa agar diberikan kemudahan dan seperti biasa, dia memilih bershalawat. Tanpa sadar kami telah berada di hadapan multazam yang penuh sesak oleh manusia. Gelombang tawaf tak henti-henti.

Saya ditepuk seseorang. Mungkin dari Mesir, Turki atau Maghribi. Tinggi besar. Dia menepuk pundak saya, memberikan semangat dan memberikan beberapa petunjuk agar dapat mendekat ke Multazam. Ummu Moumtaza saya minta ke depan dan saya mendorongnya dari belakang. Seseorang yang telah berada di sana, mundur, dan Ummu Moumtaza langsung merangsek ke dalam. Menggugu di depan Multazam. Saya membisikinya untuk meletakkan wajahnya di Multazam.

Lama dia di sana. Entah berdoa apa, entah mengadu keluh apa. Usai itu, dia mundur dan tempatnya digantikan seseorang. Saya masih belum berkesempatan. Saya minta dia mundur dan menunggu di belakang. Saya masuk ke wilayah terdekat Multazam, antara Hajar Aswad dan Pintu Ka’bah. Usai itu langsung bergerak ke kiri, ke arah Hajar Aswad. Perjuangan penuh, di antara gelombang manusia di sana. Berhasil. Alhamdulillah. Aku berhasil “berjabatan tangan” dengan Allah. Hampir pecah tangisku.

Namun, tidak lagi kudapati Ummu Moumtaza di sana, di tempatnya semula.

Duh, bagaimana mencarinya di antara ribuan gelombang tawaf manusia? Apalagi aku tidak memakai kacamata. Aku hanya mencoba keluar dari kerumunan dan menuju pintu King Abdul Aziz dan di sana kulihat langkah seseorang yang demikian kukenal : Ummu Moumtaza.

000_kabah_01

Usai itu, dia bercerita, dia terdampar di Hijir dan mengulangi kenangannya lagi di sana …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: