Di Ambang Fajar

Catatan #3 Perjalanan Umrah

000_nabawi_01

Tergugu di Raudhoh, tepat di sisi mimbar Rasul yang mulia. Seorang Saudara entah dari belahan dunia mana, menyediakan tempatnya untukku sholat dan memanjatkan doa permohonan ampun, menyenandungkan sayidul istighfar dalam tangis berkepanjangan. Raudhoh penuh dini hari itu. Padahal fajar masih jauh. Padahal masa umroh masih terlalu awal dimulai. Di taman itulah ~antara rumahku dan mimbarku, kata Nabi~ doa mustajab dipanjatkan menembus langit.

Usai berterima kasih kepada Saudaraku itu dalam bahasa Arab seadanya yang pasti dipahami semua orang ~syukron~ aku keluar Raudhoh dan merangsek kerumunan menuju makam Rasul dan dua sahabatnya. Teringat beberapa sahabat yang memang menitipkan salam, selebihnya lagi terlupa, karena himpitan manusia yang merindukan Rasul yang bahkan belum pernah ditemuinya.

Lantas bergerak menuju shaf terdepan, penuh, dan memilih di shaf kedua. Sholat sunah dua rakaat serambi menenteng mushaf dan membacanya dalam sholat. Lantas, kembali memanjatkan doa mohon pengampunan sembari menyenandungkan kembali sayidul istighfar.

Shubuh masih lama, bahkan adzan awalpun belum dikumandangkan.

Permenungan dimulai.

Betapa diri teramat bersalah kepada para sahabat. Diri ini hanya menjadi beban dan masalah bagi para sahabat. Diri ini hanyalah seonggok tubuh tanpa daya tanpa dukungan para sahabat. Diri ini hanyalah sejumput otak tanpa daya tanpa sokongan para sahabat. Diri ini teramat berdosa kepada para sahabat.

Maafkan aku sahabat …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: