Film Laskar Pelangi

Sungguh, ketika menyaksikan suasana itu, saya malah tengah dengan nakal berandai, dia yang mestinya membuat Ayat-ayat Cinta.

Kalimat itu adalah penggalan kalimat yang kutulis di Gie. Aku ingin menulis lagi tentang Riri Reza yang telah berhasil membuat film Laskar Pelangi dari sebuah novel berjudul sama karya Andrea Hirata.

Siang tadi (01/11) saya berkesempatan nonton Laskar Pelangi bareng Andrea Hirata dan Andi F. Noya. Luar biasa ! Diberi pengantar oleh jurnalis Metro TV, saya jadi agak mengerti peran Andi F. Noya, meskipun beliau tidak menjelaskannya dengan gamblang. Andrea justru yang meminta penonton memberinya tepuk tangan yang luar biasa bagi Andi. Dan Andi menjawabnya dengan joke Gus Pur, “Saya koq ditepuki, memangnya saya Trio Macan?“. Andi memang bersahaja dan bersahabat. Saya yang baru saja menyalaminya dan diperkenalkan oleh Bos saya, dicandai dengan’ “Besok datang pake celana pendek merah, ya?” Maksudnya, saya yang bertubuh pendek ini disamakannya dengan anak SD.

Namun, Andrea demikian berterima kasih padanya. “Andi yang membuat Laskar Pelangi seperti sekarang ini“, katanya.

Kembali pada Riri Reza.

Dalam pandangan saya, Riri Reza berhasil memindahkan novel ini menjadi sebuah film. Tidak sempurna, memang, karena memang tidak mungkin sempurna. Ada yang berubah dan berbeda, memang, karena tuntutannya memang telah sangat berubah dan berbeda juga. Satu hal yang sama : semangatnya. Riri berhasil membawa semangat novel itu ke dalam filmnya secara utuh. Semangat tentang perjuangan untuk menggapai mimpi.

Masih tentang film itu, Riri benar-benar membawaku pada era 70-an di Belitong. Lengkap. Mungkin karena memang asumsiku tidak ada, sehingga ketika ada 1 hal saja, aku telah menganggapnya lengkap. Seperti dalam hampir seluruh filmnya, gambar ditampilkan dalam keindahan sudut pengambilan yang tiada tara. Beberapa hal ekstrim pun tampil dalam bayangan dari novel yang kubaca.

Aku, bahkan ketika film itu pertama kali dibuat, tidak yakin adegan buaya akan muncul. Dan ternyata muncul dengan luar biasa. Buaya yang menganga sempurna. Lintang yang ketakutan dan hampir putus asa. Hal yang hilang barangkali adalah fikiran Lintang saat itu. Memang tidak akan mungkin mewujudkannya.

(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: