Pulang Malam, Mengapa?

Ketika aku menulis Bekerja dengan Cinta (2), aku hanya memandang kekuatan cinta yang membuat kita rela bersusah payah untuk terus bekerja hingga jauh malam. Namun kemudian aku menemukan alasan lain, meskipun alasan itu tidak dapat berdiri sendiri. Alasan itu adalah ~maaf~ ketidakmampuan.

Mengapa? Pertama, karena seseorang tidak mampu mengelola waktunya. Waktu yang 24 jam sehari tidak mampu dikelolanya dengan baik. Dalam manajemen yang paling sederhana pun, pengelolaan waktu adalah faktor utama yang memungkinkan sebuah keberhasilan. Perencanaan pengisian waktu yang tepat adalah separuh keberhasilan pengelolaan waktu kita yang memang terbatas. Waktu adalah juga modal, sebagaimana uang, perangkat dan manusia. Itulah mengapa sebuah perusahaan besar memilih istilah human capital dan bukan sekedar human resource. Lantas, bagaimana kita dapat mengelola waktu kita, jika hidup kita hanya dipenuhi spontanitas?

Hal kedua adalah ketidakmampuan kita mengelola modal lainnya. Jika anak, staf, para punggawa adalah juga modal, maka keberhasilan kita juga ditentukan kemampuan kita mengelolanya. Kita (jadi pengin senyum kalo nyebut kita nih) diajari banyak hal tentang manajemen dan leadership, bahkan kita telah dipercaya jadi manager dan leader (kedua kata ini dalam makna yang lebih luas), namun kita lebih sering tergagap-gagap menghadapi anak dan staf kita. Kita gagal mencari jalan untuk mendorong anak kita belajar lebih giat atau staf kita bekerja lebih keras. Kita hanya dapat marah dan menyemburkan cacian paling jorok, ketika anak kita gagal atau staf kita tidak mampu menggapai target. Kita tidak berhasil berkaca, bahwa bisa jadi memang kita yang tidak mampu!

Hal ketiga adalah kita tidak mampu bekerja. Waktu kita dihabiskan untuk hal-hal sepele yang seharusnya sederhana, sehingga banyak waktu kita terbuang dan akhirnya kita membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan tugas yang berserakan. Kita menghabiskan waktu kita untuk mengumpulkan data, menganalisis dan bahkan mengajukan rekomendasi, padahal kita tengah gagal menetapkan masalah sebenarnya.

Pulang malam? Mengapa tidak. Saya pendukung gerakan pulang malam untuk sesuatu yang memang bermakna. Namun, semoga saja kita tetap dapat bekerja dengan keras, memenuhi waktu kita dengan karya nyata, sambil terus menyapa anak-anak kita sebelum mereka berangkat tidur dan sekolah. Duh, betapa nikmatnya …

8 Komentar »

  1. Anis said

    Kalo udah jadi pimpinan, kayaknya memang harus pulang malam. Dikejar target teruss… Yang tabah ya Mas..🙂

  2. moumtaza said

    🙂
    makasih Mbak. saya memang harus tabah, bukan karena saya pimpinan, tapi karena pimpinan saya ngajak *pulang malam*😀

  3. semangat Pak. Untuk mendapat hasil besar mang butuh pengorbanan, semuanya ada hasilnya koq. semangat

  4. moumtaza said

    waduh, moga2 aku gak salah nulis nih. aku sendiri pendukung kerja ampe malam (lihat di protes), aku hanya pengin, kalo pada pulang malam, please untuk sesuatu yang lebih bermakna, bukan karena emang gak bisa kerja cepet🙂

  5. daripada pulang malem….mending waktu masupnya aja yang diganti jadi lebi pagi…
    rasanya sayang melewatkan waktu2 sore dan malem di kantor, lebi nyaman diruma…untuk menikmati te anget ato untuk sekedar duduk2

  6. moumtaza said

    nah, yang ini lebih asyik. tapi, brangkat juga dah lebih pagi, wong cuma 4 menit dari rumah, sambil ngantar Kya, 7.15 nyampe de …

  7. endah said

    enak ya yang tinggalnya di dkt kantor. aku smpt ngobrol dg bbrp karyawan di kantor situ (Pwk), ternyata rata-rata rumahnya ga jauh dari kantor ya, jadi pas istirahat bisa pulang, nemenin anak-anak makan siang di rumah. hmmm… nikmatnya…

  8. D said

    iya, kalo akyu yang di perjalanan berangkat aja udah ngabisin 2,5 jam, enaknya gimana ya…
    tapi jangan kasih opsi pindah rumah deket kantor ya, soalnya tinggal di jakarta nggak berkualitas, dan kalo mau berkualitas, muahal kantong ga kwat bo…

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: