Manajemen Waktu

Setiap manusia diberi Allah banyak hal yang sama. Salah satunya adalah diberikanNya waktu bagi manusia : 24 jam dalam satu hari. Semua sama. Manusia-manusia luar biasa yang mengubah wajah dunia menjadi seperti hari ini pun diberikan waktu yang sama : 24 jam dalam satu hari. Muhammad (SAW), manusia yang tercatat sebagai urutan pertama dalam buku 100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah juga memiliki waktu yang sama. Begitu juga Thomas Alfa Edison, Einstein, Napoleon bahkan Hitler.

Lantas, apa bedanya dengan kita yang juga disediakan waktu yang sama oleh Allah? Mereka dengan luar biasa dapat meletakkan batu pijakan yang kuat bagi proses perubahan warna sejarah dunia hari ini. Kita? (lu aja kalee, gua kagak😛 ). Aku, sang jahil ini, sama sekali tidak tahu, kecuali mencoba memahami sebuah hal : mereka memanfaatkan dengan benar waktu yang disediakan Allah.

Hidup dengan segala isinya adalah amanah. Beribadah ritual dan non-ritual (mahdhoh wa ghoiru mahdhoh) adalah amanah penciptaan manusia. Pekerjaan adalah amanah. Keluarga adalah amanah. Berperan sosial di lingkungan masyarakat adalah amanah (ingat, bagaimana hubungan dan penghormatan kepada tetangga dikaitkan Allah dengan keimanan seseorang). Dan untuk itu semua, Allah hanya (atau telah) menyediakan 24 jam dalam satu hari. Muhammad, Sang Maulana, mengisyaratkan pembagian waktu dalam tiga bagian : untuk diri Tuhanmu, untuk dirimu dan untuk keluargamu. Namun, tidak ada pembagian yang jelas untuk ketiganya. Diperlukan sikap lentur dalam memanfaatkannya. EMHA bahkan memaknai … wal yatalaththof … (kalimah tengah dalam Quran) sebagai … dan bersikap lenturlah … Lentur itulah yang memungkinkan kita menempatkan sesuatu dengan tepat.

Lantas, jika waktu kita sama, bahkan yang mungkin kita lakukan juga sama kerasnya. Mengapa tetap saja mereka luar biasa dan kita hanya biasa-biasa saja? Aku, sang faqir, tetap saja tidak tahu, kecuali mencoba memahami sebuah hal. Mereka tahu benar memanfaatkannya.

Muhammad menangisi waktunya yang terbuang tanpa penambahan ilmu dan hikmah. Kita malah mencoba bergurau dengan waktu, mengisinya dengan berdebat berkepanjangan di ruang rapat dan gagal melanjutkannya dengan karya nyata. Thomas Edison melewati setiap waktunya dengan bertanya, mengapa, hingga di juluki si Mengapa. Kita juga melewati waktu kita dengan pertanyaan yang sama, namun dilampiri prasangka dan kecurigaan. Hitler memenuhi setiap harinya dengan ambisi dan cita-cita, lantas sepenuh daya menggapainya. Kita juga memenuhi setiap hari kita dengan mimpi, namun terkantuk-kantuk dalam setiap pertemuan.

Mereka merencanakan setiap keberhasilan yang ingin mereka raih. Mereka menggantungkan cita-cita di pucuk pohon cemara dan menciptakan tangga untuk mengambilnya dan membawa pulang. Mereka lalui waktu mereka dengan penuh cinta.

Kita tidak pernah merencanakan apa-apa untuk memanfaatkan waktu kita. Kita hanya nampak sebagai pekerja keras dengan pulang hingga larut malam, kerja di saat orang-orang ingin memenuhi amanah mereka bagi keluarga dan memenuhi ruang waktu kita dengan mengabaikan tetangga kita. Karena memang tidak mampu mengawali sebuah hal saja dengan benar untuk waktu yang disediakan Allah : merencanakan memanfaatkannya.

Kita … (lu aja kalee, gua kagak😛 )

3 Komentar »

  1. finomena said

    hiks.. menohok sekali… makasih pak..

  2. davik oktavian said

    jadi inget lagu jaman kita di TK dulu ” mari pulang, marilah pulang, marilah pulang tepat waktu nya”🙂 , btw saya belum bisa menulis setajam ini, bagus…tks

  3. susilo said

    Assalamualaikum…..
    Wah terimakasih atas nasehatnya yang sudah diberikan pak

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: