Kehilangan Tongkat

Motivasi adalah tongkat. Ketika kita dalam perjalanan, tongkat bukan saja berguna untuk penunjuk arah ketika kegelapan menyergap, namun juga penyangga ketika keletihan mendera.

Hari ini, beberapa di antara kita (sekali lagi nih, takut didahuluin Mas Hary, kita? lu aja kalee, gua kagak) telah kehilangan tongkat itu. Di luar alasan ibadah, maka motivasi utama kerja kita adalah uang dan posisi. Diakui atau tidak, sebagian besar kita berharap akan balasan uang dan posisi dalam setiap aktifitas kerja kita. Jika uang alasannya, maka kita berharap, uang yang kita terima tetap, dan jika mungkin menanjak naik. Jika posisi alasan kita, maka kita berharap posisi kita tetap, bahkan jika mungkin naik. Kita akan berjuang habis-habisan, agar uang yang kita terima tidak berkurang atau posisi kita tidak melorot. Dan hanya itu alasan kita.

Namun, kondisi keuangan perusahaan semestinya tidak memungkinkan uang yang diterima karyawannya tetap, kita tidak peduli hal itu. Kita cuek saja, karena perangkat organisasi kita, menempatkan sebagian besar satuan yang kita terima tidak berubah hanya karena kita tidak becus bekerja. Demikian pula dengan posisi. Perangkat organisasi kita tidak memungkinkan (kecuali secara relatif dan selektif) melorotkan posisi kita, meskipun kita tidak ngapa-ngapain.

Karena itulah, hari ini sebagian besar kita telah kehilangan motivasi bekerja lebih keras. Apa yang kita terima sebagai penghasilan dalam satu tahun untuk setiap bulannya, bahkan untuk setiap periodenya adalah jumlah yang hampir tetap dan tidak terpengaruh oleh kinerja. Seberapapun hasil yang kita peroleh, sebesar apapun kinerja yang kita persembahkan tidak akan mempengaruhi penghasilan yang kita tenteng ke rumah.

Apa yang kita nikmati hari ini dalam bentuk posisi, jabatan dan fasilitas hampir tidak akan berubah. Anda yang saat ini menikmati posisi tertentu, jika tidak ekstrem benar keadaannya, maka Anda akan tetap menikmatinya untuk waktu yang lama, bahkan mungkin akan lebih nyaman. Seburuk apapun performansi kita dalam menjalankan amanah organisasi, selama tidak ekstrem benar, Anda tidak akan digeser. Perangkat organisasi yang dibangun di perusahaan justru memberikan kesulitan luar biasa bagi seseorang untuk demosi, meskipun dalam kinerjanya yang tidak juga membaik.

Namun, masih ada sumber motivasi lain. Selain cinta, yang memberikan tujuh lapis semangat, sumber motivasi itu adalah Customer kita. Mereka yang hari ini memberikan segalanya. Tidak saja revenue, namun juga kritikan, makian, harapan bahkan cinta.

Mari bekerja untuk mereka …

7 Komentar »

  1. Masgiarto said

    Mari Mas, kita bangkitkan lagi semangat kerja kita,

    kita??? ya iyalah, masa gue aja, lu enggak??? hehehe

    {Mas ini kayaknya korban super soulmate-nya Indosiar yach🙂 }

  2. moumtaza said

    Bukan, Mas. Anakku dah mulai kurang ajar. Dia yang ngajarin aku😦

  3. Masgiarto said

    Anak-anak sekarang memang cepat meniru dari apa yang mereka dengar, mereka lihat. Anak-anak perlu didampingi saat menonton TV.

  4. Anis said

    Mas, kayaknya aku termasuk yang kehilangan tongkat itu deh.🙂

  5. sofi said

    ikut nambah satu lagi motivasi untuk bekerja ya Pak : i b a d a h
    dunia akhirat pasti akan didapat.

  6. moumtaza said

    🙂 makasih, Mbak. saya memang sengaja menulis di luar alasan itu. untuk alasan itu, seseorang tidak memerlukan apapun selain Dia …

  7. […] Ya. Ilmu pelayanan menyatakan, komplain atau keluhan Pelanggan adalah hadiah tidak ternilai harganya dari Pelanggan. Sebuah hadiah istimewa yang jika terima dengan tangan terbuka akan berdampak luas bagi pelayanan sebuah perusahaan atau badan apapun itu. Faktanya, menurut SQAR yang aku ikuti, tidak lebih dari 4% dari total Pelanggan yang tidak puas yang menyampaikan keluhan. Bayangkan, 1 keluhan mewakili 26 keluhan lainnya. Betapa naifnya kita, jika masih berfikir jumlah keluhan kita kecil bahkan tidak ada, dan kita memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa atas pelayanan kita. Perusahaan apapun itu! Pelanggan mestinya menjadi salah satu motivasi kita (baca lagi : Kehilangan Tongkat). […]

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: