Tetaplah Menjadi Emas

Usai browsing sebentar di wordpress (aksyik juga make wifi di rumah), aku memilih nonton Box Office di T**** TV. Dan ketika iklan, aku pindahkan channel hingga menemukan Mario Teguh, sang Super Motivator di * Channel tengah berkata, “tetaplah menjadi emas“. Tidak lama kemudian, iklan lagi. Huh!

Ya, tetaplah menjadi emas, karena setiap kita dilahirkan begitu. Kita diciptakan Tuhan dalam kesempurnaan (95:4), namun juga dengan potensi kelemahan hati dan ketakutan yang luar biasa dan kepandaiannya untuk selalu saja berkeluh kesah (70:20).

Ya, tetaplah menjadi emas, meskipun kita diperlakukan sebagai kuningan. Tetaplah berfikir sebagaimana seharusnya emas berfikir. Tetaplah bekerja sebagaimana semestinya emas bekerja. Meskipun orang-orang di sekitar kita melalui tangan kekar organisasi meletakkan kita di kelompok kuningan.

Jangan takut untuk menjadi sia-sia dan tidak berarti, karena jika kita tidak bersedia berfikir dan bekerja sebagaimana seharusnya emas, maka kita tetap akan diperlakukan sebagai kuningan. Jangan takut untuk tidak dinilai, karena ada super accounting (begitu MT menyebutnya) di akhirat nanti. Begitu juga Anda yang kuningan yang tengah diperlakukan sebagai emas, berubahlah menjadi emas sebenarnya, karena juga ada super accounting yang akan mencatat Anda …

Tentang emas dan kuningan, aku jadi inget Mas Kadar, yang lebih suka menyebutnya sebagai wingko dan kencono. Wingko adalah potong genteng pecah yang tidak bernilai selain untuk mainan anak-anak desa, dan kencono adalah emas. Falsafah wingko kencono dan kencono wingko dikenal sebagian besar orang Jawa.

Wingko kencono adalah falsafah untuk selalu menganggap baik untuk apapun yang berasal dari kita, anak kita dan orang-orang dekat kita, terlepas sebenarnya dia tidak terlalu baik (untuk tidak disebut sebagai buruk). Dan sebaliknya, kencono wingko adalah falsafah untuk selalu menganggap buruk untuk apapun yang bukan berasal dari kita, anak kita dan orang-orang dekat kita, terlepas sebenarnya dia sangat baik.

Terkait dengan ini, saya jadi ingat MT lagi. Ide cemerlang seringkali tertolak, bukan karena idenya. Tapi lebih karena siapa yang menyampaikan ide itu atau bagaimana kita mengemas ide itu.

 

3 Komentar »

  1. D said

    Ide cemerlang sering kali juga gagal terwujud 100%, karena perlu didahului dengan mengeluarkan 99% keringat.

  2. moumtaza said

    dan 99% keringat itu orang lain😛 lihat : https://moumtaza.wordpress.com/2007/12/23/saya-pasti-salah/

  3. Kadar said

    Kenyataan seringkali kita melihat dan menilai siapa yang menyampaikan ide walaupun seharusnya kita melihat dan menilai dari kualitas ide tak peduli siapapun yang menyampaikan.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: