Gie (2)

lebih baik diasingkan, daripada terpenjara dalam kemunafikan
Gie

Menonton ulang film Gie, seperti tengah membaca peran yang gagal kulakukan. Dia begitu berani memperhatikan banyak hal, mengkritisi banyak hal dan, tentu saja menyuarakan banyak hal. Aku ? Pengecut yang demikian penakut. Untuk bianglala saja, aku tidak cukup berani melanjutkannya, hanya karena e-mail seorang sahabat, meskipun karena bianglala pula aku pernah diadili dalam sebuah peradilan in absensia (bener speelingnya?).

Itulah Gie, yang meskipun 27 tahun kurang sehari umurnya telah menjadi tokoh penting dalam catatan sejarah yang justru tidak banyak banyak catatannya. Hanya segepok kliping tulisannya, beberapa surat kepada sahabatnya, dan sebuah buku harian yang ditulis dengan setia. Tapi, film itu membuka banyak hal tentang Gie, meskipun menurut banyak kalangan film itu tergolong fiksi. Bukan masalah benar, karena memang bukan tokohnya benar yang tengah aku ingin bicarakan, tapi banyak hal dari sedikit waktu yang telah dilakukannya.

Gie memperhatikan banyak hal. Dia mencintai alam. Gunung adalah kecintaan sekaligus kegilaannya. Dia mencintai hewan-hewan piaraan. Dia juga memperhatikan benar setiap helai daun di kampusnya. Arif Budiman, sang kakak, menyebutnya sebagai cinta yang universal kepada seluruh makhluk Tuhan.

Gie memperhatikan banyak hal. Dia memperhatikan sejarah sastra, sejarah Indonesia (salah satu karya tulisnya tentang Sarekat Islam di Semarang berjudul Di Bawah Lentera Merah).

—-

Akhirnya, saya memilih untuk tidak melanjutkannya. Seperti halnya ketakutan Arief Budiman ketika harus membuat tulisan tentang Gie, adiknya. Tapi, saya percaya benar, saya memang bukan siapa-siapa, bahkan tak lebih baik dari apa-apa.

3 Komentar »

  1. D said

    Komentar untuk paragraf terakhir:

    “…saya memang bukan siapa-siapa, bahkan tak lebih baik dari apa-apa.”

    Bukankah kita semua adalah emas, maka perlu berpikir dan berbuat seperti emas? apakah tidak terinspirasi Gie yang telah membuktikan emas dalam dirinya?
    Rendah hati itu baik, tapi kalo kerja itu mbok yang tuntas hehe😛 Ayo terusin mas tulisan Gie-nya, aku jadi pingin tahu terusannya. Maklum, aku bukan highlander yang masa kehidupannya dimulai beratus-ratus tahun yang lampau.
    THANKS BEFORE😀

  2. moumtaza said

    aku yakin, paragraf itu juga yang dipegang oleh Gie. di ujung hidupnya, bahkan dia sempet bertanya, untuk apa semua ini?

    lho, bukannya sama, D. aku lahir juga setelah dia wafat kena gas beracun di puncak mahameru, sehari sebelum ulang tahunnya ke-27.

    mana ?

  3. Anis said

    Aku baca buku Gie setelah nonton filmnya. Dan aku nonton film Gie karena yang main Nicholas Saputra.🙂

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: