GIE (1)

film ini berhasil, karena berhasil dibuat
Riri Reza

Dua hari ini, di antara sakit yang menggigit, saya teringat untuk menontong ulang film GIE. Dulu, saya dapatkan DVDnya langsung dari Mas Riri Reza dan Mbak Mira, ketika mereka bergabung dalam sebuah proyek film iklan untuk perusahaan. Tidak filmnya saja yang kutonton, tapi beberapa deleted scenes dan behind the scene yang pastinya tidak ada dalam VCD biasa.

Film Gie diangkat dari catatan harian Gie dan beranjak dari sanalah Timnya Mbak Mira, terutama Mas Riri mengembangkannya menjadi sebuah skenario film dan itu tidaklah mudah. Butuh waktu hampir dua tahun (dimulai tahun 2002), mewawancarai puluhan saksi sejarah dan mencoba menggali intepretasi atas itu semua. Gie, yang meninggal di puncak Semeru dalam usia yang sangat muda, 27 tahun, memang tidak menyisakan banyak catatan seperti halnya sebuah biografi yang utuh, sehingga sangat sulit menggambarkannya sebagai sebuah film yang utuh juga.

Namun, Riri berhasil menggarapnya. Sebagai penulis skenario, Riri sangat berhasil memindahkan catatan harian Gie dan data pendukung lainnya menjadi sebuah skenario yang matang. Riri, sebagai sutradara juga berhasil membawa kita sepenuhnya ~karena menurut saya hampir tanpa cela~ ke era tahun-tahun pergolakan itu. Riri membawa serta berton-ton peralatan dan 75 kru ke gunung untuk banyak adegan di sana : perenungan Gie, persahabatannya dengan Hans, percakapannya dengan Herman Lantang, serta romantismenya dengan Ira. Lengkah, utuh dengan nuansa alam yang luar biasa indahnya.

Riri juga berhasil merekrut 2500an orang untuk turut dalam adegan demo, lengkap dengan puluhan mobil, ratusan sepeda, spanduk dan gedung-gedung tua. Sungguh, ketika menyaksikan suasana itu, saya malah tengah dengan nakal berandai, dia yang mestinya membuat Ayat-ayat Cinta.

Sebagai sebuah film, Gie berhasil dibuat. Dan itu bagi Riri cukup. Saya tidak tahu benar, apakah film ini juga laku. Sangat mungkin tidak. Karena, tokoh Gie tidak banyak dikenal oleh anak muda sekarang. Catatan hariannya pun pasti tidak dibaca oleh banyak orang. Berbeda benar dengan Ayat-ayat Cinta, yang novelnya justru telah fenomenal, penulis novelnya telah dianugerahi banyak penghargaan dan itu membentuk promosi mulut ke mulut yang luar biasa.

Maafkan saya, untuk merasa berat hati untuk untuk tidak membandingkan Gie dengan AAC, karena saya melihat beberapa kesamaan. Kedua film ini sama-sama diangkat dari sebuah catatan, bedanya adalah soal fiktif atau kisah nyata. Dalam keberanjakan ini, saya melihat AAC justru kedodoran mengikuti novelnya. Gie, saya anggap cukup berhasil, mengingat catatannya yang sangat sempit, sehingga film justru mampu meluaskannya.

Kedua film ini juga diharuskan menghadirkan setting yang tidak biasa. Gie dengan setting 1960an, sedang AAC dengan setting Mesir. Lagi-lagi, AAC kedodoran mengikuti setting diciptakan novelnya, terlepas dari banyak keterbatasan sebagaimana diajukan Mas Hanung dalam tulisannya. Saya justru dibuat kagum oleh setting yang dibangun Riri dalam Gie.

Itu dulu, semoga berkenan. Suatu hari, mungkin besok saya akan melanjutkannya.

1 Komentar »

  1. […] itu adalah penggalan kalimat yang kutulis di Gie. Aku ingin menulis lagi tentang Riri Reza yang telah berhasil membuat film Laskar Pelangi dari […]

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: