Manajemen Ancaman

Fragmen 1 : Ruang keluarga sebuah keluarga kecil, pukul 21.00. Seorang Bapak tengah makan malam karena pulang kantor terlambat. Seorang Ibu dan dua anaknya yang tengah belajar sambil ~sesekali~ menonton TV.

Kalau Kakak kaya gini terus, nanti Mama kirim ke pondok pesantren“.

Aku, tokoh Bapak dalam fragmen itu kaget. Ngapain nih, Mamanya anak-anak pake ngancam segala. Anakku yang gede memang rada malas kalau disuruh sholat isya. Usai belajar, biasanya lebih suka langsung nonton TV dan bukannya langsung sholat dan beranjak tidur. Wajar juga sih. Dia perlu istirahat dan itu dilakukannya dengan nonton relaity show atau sinetron yang bertebaran di TV. Dan menjadi lupa, bahwa Mamanya sudah berkali-kali teriak soal sholat dan tidur. Makanya muncul ancaman itu.

Hmm, tidak terlalu salah, saya fikir. Pertama, karena Kakak sudah terlalu sering diingatkan dan tidak selalu peringatan Mamanya berupa ancaman. Ancaman Mamanya biasanya hanya muncul ketika frekuensi peringatan sudah mencapai jumlah yang tinggi dan tidak diindahkan. Kedua, karena ancaman memang efektif untuk anak seumur anakku itu. Namun, tetap saja, bagiku ancaman itu cukup mengganggu.

Fragmen 2 : Pembicaraan telepon seorang Manager dan Stafnya.

Masa begitu saja tidak bisa dilakukan. Kalau memang tidak bisa dan tidak mau, nanti saya mutasikan, lho.

Begitu kurang lebih ancaman Sang Manager terhadap stafnya, karena kecewa atas kinerja stafnya. Saya hampir percaya, bahwa setiap kegagalan dapat dijelaskan penyebabnya, sebagaimana juga keberhasilan harus dapat dijelaskan penyebabnya. Saya percaya, bahwa Tuhan memang penentu setiap hasil usaha, namun setiap ketentuanNya berlaku atas pengaturanNya juga. Ketika seluruh usaha telah diupayakan dan hanya kegagalan yang tersisa, apakah lantas hukuman pantas dijatuhkan?

Fragmen 3 : Saya sendirian, mendengar tangisan di ujung telepon. Bukan tangisan itu benar yang saya risaukan. Ancaman, itulah yang lebih merisaukan.

Saya tidak tahu benar, mengapa beberapa orang lebih memilih ancaman sebagai bukti kekuatan dirinya. Seandainya dia bersabar, dia akan sadar, bahwa ancaman hanya membuktikan kelemahannya. Dengan mengancam, dia tengah memposisikan untuk tidak dapat berbuat apa-apa lagi untuk mendorong stafnya berbuat lebih baik. Dengan mengancam, dia tengah menunjukkan diri sebagai Raja Tangan Besi dan bukan seorang pemimpin sejati.

Fragmen 4 : Saya sendirian.

Emang siapa kamu!

5 Komentar »

  1. fragment 1:
    ada hal yg lebi serius, nyangkut begitu saja di kepala saya : kenapa masuk ke pesantren dijadikan ancaman ??

    fragment 2 :
    ya, karena saya bodoh, lemah, tidak berdaya dan cenderung tidak berguna

    fragment 4 :😀😀😀

  2. moumtaza said

    pondok pesantren = ancaman ?, bagiku atau bagimu sih tidak. tapi bagi Kakak, itu ancaman😀

  3. davik oktavian said

    tuhan memberikan segalanya bagi pemimpin, kekuatan untuk memaksa diantaranya. tinggal maukah ia menggunakan nya secara bijak atau tidak. itu mengapa disetiap doa, kita selalu mendoakan agar tuhan mengampuni segala dosa sang pemimpin, krn relatif ia pny kecenderungan untuk mengeksploitasi anugrah yg diberikan dng cara yg tdk bijak. dan saya sering menggunakan nya…:-(

  4. Naruto Chan said

    “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas orang-orang yang dipimpinnya di Hari Kiamat kelak.”

    Pada dasarnya saya tidak begitu menguasai atau bahkan mengetahui secara benar tentang manajemen yang terkait dengan SDM. Namun satu yang saya yakini bahwa menjadi pemimpin itu sangatlah berat.

    Secara keseluruhan, tulisan tentang “manajemen ancaman” ini dapat dijadikan sebagai Ma’alim Fi Thariq (Rambu-rambu dalam Perjalanan) dan sebagai Nurun ‘ala Darb (Cahaya dalam Perjalanan), sehingga kita tidak menjadi ghurur (lupa diri).

    Syukron buat mas moumtaza untuk terus saling mengingatkan dan Insya ALLAH dalam Kebenaran.

    Jazakumullah khairan katsiraa

  5. moumtaza said

    hatur nuhun, Kang. tapi perasaan mah teu kitu-kitu teuing …🙂

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: