Prioritas

Tulisan ini disusun sebagai tanggapan atas tulisan
 Boleh Murah tapi Jangan Murahan (Davik Oktavian’s Blog).

Suatu hari di sebuah perguruan di lereng Gunung Lawu, seorang Guru tengah memberikan ujian terakhir kepada ketiga muridnya. Mereka ~Sang Guru dan ketiga Muridnya~ duduk bersila menghadap sebuah ember kosong dan tiga ember yang masing-masing berisi : pasir, kerikil dan batu sebesar kepalan. Setelah memanjatkan doa, sebagaimana tradisi banyak perguruan, Sang Guru berujar kepada ketiga Muridnya.

Ngger, murid-muridku, kini saatnya kalian kulepas dari perguruan ini untuk mengamalkan ilmu yang kalian peroleh di sini dalam dunia nyata. Dunia yang tidak saja menawarkan manisnya gula, namun juga asinnya garam dan pahitnya biji mahoni“.

Ketiga Muridnya diam takzim mendengarkan ujaran Sang Guru.

Namun, sebelum itu, aku ingin menguji kalian. Di hadapan kalian terdapat satu ember kosong dan tiga ember yang masing-masing berisi : pasir, kerikil dan batu. Aku ingin kalian mengisi ember yang kosong itu dengan ketiga bahan dalam ketiga ember tersebut sebanyak yang kalian bisa. Silakan“.

Murid pertama langsung memindahkan ember berisi pasir ke dalam ember yang kosong. Dia tersenyum puas, karena tugasnya terselesaikan dengan mudah dan cepat. Setelah mengosongkan ember yang telah diisi tadi, Murid keduapun melakukan hal yang sama, memindahkan ember berisi pasir ke dalam ember yang kosong. Dan, setelah mengosongkan ember yang telah diisi tadi, lagi-lagi Murid ketigapun melakukan hal yang sama, memindahkan ember berisi pasir ke dalam ember yang kosong.

Sang Guru tersenyum, menarik nafas dan lantas berujar, “Murid-muridku. Mengapa kalian begitu tergesa? Mengapa tidak bersabar sebentar dan berfikir untuk apa kusediakan ember berisi kerikil dan ember berisi batu?

Sang Guru menunduk dan menatap ketiga Muridnya dengan kesedihan yang tergambar jelas di wajahnya.

Aku telah mengajarkan ilmu, tapi belum mengajarkan kebijaksanaan. Maafkan aku, Murid-muridku.

Sang Guru lantas mengisi ember kosong itu dengan batu sebesar kepalan. Lantar diisinya lagi ember itu dengan kerikil. Tak seluruhnya masuk, namun cukup membuat ember itu terisi. Kerikil-kerikil itu mengisi ruang kosong di sela batu. Lantas diisinya lagi ember itu dengan pasir. Sekali lagi, ada yang tersisa, namun cukup membuat ember itu benar-benar penuh.

Murid-muridku, kita tidak dapat melakukan semua hal yang kita ingin lakukan. Kita tak mungkin mendapatkan semua hal kita idamkan. Namun, kita miliki kebijaksanaan untuk memilih hal-hal penting untuk kita dahulukan lakukan. Lantas memilih hal-hal agak penting untuk kita kemudiankan, bahkan kita seringkali harus mengabaikan beberapa hal tidak penting“.

Jika kepemimpinan adalah keputusan untuk semua hal, maka keputusan untuk menetapkan hal penting adalah tolok ukur sebuah keberhasilan kepemimpinan.

Silakan …

——

Maaf, Bang, tulisan Abang mengilhamiku menuliskan ini. Terima kasih untuk telah berbagi.

6 Komentar »

  1. Anis said

    Still.. aku masih belum menemukan jawaban. Gimana caranya supaya produk kita itu laku?

  2. moumtaza said

    Mbak Anis, maaf jika yang coba saya tulis tidak memenuhi harapan Mbak. Saya hanya tengah mencoba mengajak kita semua menemukan prioritas atas apapun yang ingin kita lakukan. Dalam beberapa kasus ekstrem, bahkan saya tidak menyarankan penjualan (makanya kita tidak perlu berfikir agar produk kita laku). Kita dihadapkan pada banyak pilihan prioritas. Pelanggan harus tumbuh, sementara kenyataannya untuk bertahan tidak berkurang saja, kita tidak mampu.
    Maaf, saya harap kita berseberangan, sehingga saya dapat belajar dari Mbak. Kata seorang bijak, musuh dalam perdebatan adalah sahabat dalam keberhasilan. Semoga …

  3. davikoktavian said

    saya sependapat dng kang moumtaza, seperti hal nya hidup, bisnis pun adalah sebuah pilihan. manakala kita coba masuk kepasar yg kompetitif enough, dari awal target harus jelas, siapa gerangan yg ingin kita sasar. low, medium or high income customer. bila kita berpikir semua orang hrs pake kita pny barang, serakah nama nya, dan jelas kita ga ada focus. sedari awal sejarah lahirnya produk F, memang untuk mengatasi tdk mampunya kita memenuhi permintaan POTS, sehingga lahir lah F. namun regulasi berubah begitu cepat, shg kita kudu ngikutin perubahan itu. maka lahirlah combo sbg sebuah jwb an. namun lagi2, target yg akan diraih msh tdk clear, semua segment hrs diembat.

    berbeda dng tetangga, positioning mrk clear. targetnya jelas ‘anak muda’ dan orang2 yg sensitif price. maka lahirlah talktime, 1000/jam, bundling dng handheld murah.

    saya msh berpikir konservatif, manakala kualitas sbg andalan strategy,dikawinkan dng price yg reasonable bukan tdk mungkin kita rebound kembali. percayakah??

  4. Anis said

    Ok, Pak Prio dan Pak Davik. Terima kasih utk pencerahannya.

  5. D said

    Wah kalo semua orang udah pada setuju, jadi ngak ada lagi yang perlu dibahas hehe.

  6. jadi inget brama kumbara, raja yang bijaksana, dan beristri dua😛

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: