Duhai Rasul, Salam bagimu

Duhai Rasul, Salam Bagimu, Saat Engkau Dilahirkan, Saat Engkau Hijrah, Saat Engkau Diwafatkan

(bagian pertama : saat lahir)

Duhai Rasul, Salam bagimu saat engkau dilahirkan.

Dunia dalam gelap pekat kejahilan. Kebodohan melingkupi zaman dalam penghambaan berhala-berhala dina. Ketamakan melingkupi Makkah dalam kesombongan dan keangkuhan. Kerakusan melingkupi penduduknya dalam maksiat dan kejahatan. Namun Mekkah tetap saja mulia karena Ka’bah. Baitullah yang agung yang dibangun dengan ketaatan Ibrahim dan kesalihan Ismail. Baitullah yang mengumpulkan seluruh manusia di dunia di Mekkah yang juga mulia.

Hingga Abrahah yang hasad akan kemuliaan Mekkah dan Ka’bah berkendara gajah membawa ribuan pasukannya untuk meratakan Ka’bah. Menghancurkan Ka’bah, hingga Mekkah tak lagi mulia dan pusat kunjungan manusia, serta berpaling kepada gereja Qullasi di Shan’aa. Namun, Allah berkehendak menjaga dan melindungi Ka’bah. Allah mengirimkan ribuan burung yang berduyun-duyun laksana menutup langit dari arah laut. Tiap burung itu membawa tiga batu siksaan dan menjatuhkannya kepada pasukan Abrahah. Batu-batu itu menjatuhi mereka dan kulit mereka terasa panas dan terbakar. Surat Al Fiil mencatat mereka, laksana daun yang habis dimakan ulat.

Itulah, duhai Rasul yang agung, mu’jizatmu yang Allah anugrahkan, bahkan sebelum engkau dilahirkan. Lima puluh hari usai Abrahah tewas mengenas dibantai batu siksaan, engkau lahir di Irash, sebuah kampung di Mekkah. Lahir dari seorang Ibu yang mulai, Aminah dan seorang ayah yang telah dipanggil Allah terlebih dahulu, sebelum engkau lahir, Abdullah bin Abdul Muthalib. Engkau lahir, ya Rasul dari dua Bapak yang nyaris wafat. Ismail, nenek moyangmu nyaris wafat dalam pengabdian dan pengorbanannya sebagai bukti kecintaan dan ketaatannya pad Allah, dan Abdullah nyaris wafat sebagai nadzar sang Kakek, Abdul Muthalib.

Duhai Rasul, Allah menyambut kelahiranmu dengan membuktikan kekuasaanNya menjaga Mekkah dan Ka’bah yang mulia. Engkau demikian mulia, hingga Makkahpun dimuliakan untukmu.

Duhai Rasul, salam bagimu saat engkau dilahirkan.

Dunia menyambut kelahiranmu dengan cara yang berbeda. Barzanji ~meski dalam banyak perdebatan~ mencatat puluhan peristiwa besar melingkupi kelahiranmu. Ratusan bintang panas membara beterbangan mengusir syetan dan jin dari ketinggian langit. Zuhriyah, gugusan bintang yang agung turut menghormati kelahiranmu, juta binar bintang menerangi daratan Makkah. Namun, istana-istana kerajaan Kishra yang dibangun penuh kemegahan oleh Raja Anusyarwan, hancur berantakan. Namun, api pemujaan di seluruh tanah Persia padam tanpa cahaya. Padam oleh cahya kemuliaanmu. Namun, telaga-telaga di antara Hamadzan dan Qum yang melimpah, surut tanpa sisa. Kemuliaanmu, duhai Rasul yang agung, memenuhi isi langit dan bumi dalam keagungan tiada tara.

(bagian kedua : saat hijrah)

Duhai Rasul, salam bagimu, saat engkau hijrah.

Islam, sikap berserah hanya kepada keilahian Allah, yang kaubawa dari Allah, membawamu pada tantangan berat luar biasa. Derita keterasingan dari orang-orang yang bahkan menyebutmu Al Amin ~karena ketepercayaanmu, sikapmu yang agung~ menindasmu dalam derita. Lemparan batu yang memerahkan kepalamu dengan darah. Hujatan, hinaan, bahkan fitnah keji menghujam seperti belati tajam.

Namun, kepada Allah-lah, engkau bertawakal dan bertabah hati, hingga kau berujar, “demi Allah, jika matahari dipanggulkan di pundak kananku dan rembulan dipanggulkan di pundak kiriku, aku tidak dakan menghentikan tugas ini”. Meneguhkan keimananmu yang tinggi dan mulia.

Duhai Rasul, salam bagimu saat engkau hijrah.

Madinah, kota perdagangan di jazirah yang terpisah, menawarkan perdamaian dan perlindungan. Engkau melihatnya sebagai kota untuk memulai langkah baru mensyiarkan Islam yang mulia. Ya, Rasul yang Agung, langkah baru dan besar harus segera dicanangkan.

Namun, ya Rasul, langkah itu tidaklah mudah. Bukan saja karena terik matahari yang membakar, menunggu di depan mata, namun juga karena kafir Quraisy tak pernah berhenti mencoba mengganggumu, bahkan membunuhmu. Jalanmu panjang dan lama, duhai Rasul. Menembus padang luas panas, bersembunyi di gua Tsur yang sempit menghimpit, dihadang oleh Suraqah yang kemudian terjungkal, menahan dahaga dan mu’jizat memeras susu kambing serta membangun masjid di Quba atas dasar taqwamu.

Namun, lantas Madinah menyambutmu bagai menyambut cahaya rembulan. Mereka melantunkan syair-syair keindahan di sepanjang jalanmu. Dan dimulailah sebuah babakan sejarah baru di Madinah Nabawiyah.

(bagi ketiga : saat wafat)

Duhai Rasul, salam bagimu saat engkau diwafatkan.

Ketika pertolongan Allah dan kemenangan telah datang, duhai Rasul (QS 110 : 1-3)

Ketika telah Allah sempurnakan agamamu bagimu, duhai Rasul (QS 5 : 3)

Ketika telah Allah janjikan rahmatNya yang agung, Duhai Rasul (QS 4 : 175)

Ketika telah Allah perkukuh peran kerasulanmu, Duhai Rasul (QS : 128)

Ketika telah Allah peringatkan untuk memelihara diri pada hari di mana kita semua kembali padaNya, duhai Rasul (QS 2 : 281).

Abu Bakar yang shadiq, Umar sang Faraouq dan Abbas yang perasa, menangis sedih akan tibanya saat itu. Saat di mana engkau, Rasulullah yang agung, dipanggil Allah. Ya saat itu tiba. Dan itu benar, duhai Rasul. Sakitmu menggigit, hingga Abu Bakar ~yang hendak kaupilih jadi khalil~ kau suruh menggantikanmu mengimami sholat. Sakitmu keras menderas, duhai Rasul, padahal engkau hampir tak pernah sakit. Hanya sedikit tak dapat tidur, ketika berita bohong soal engkau disihir seorang Yahudi atau sakitmu karena termakan daging beracun.

Namun, duhai Rasul, apakah yang kaubisikkan pada Fatimah ~Ummul Abuuha~ yang membuatnya menangis dan sekaligus tertawa? Tangis perpisahan denganmukah? Lantas bersua kelak denganmukah? Lantas keteladanan agung macam apa lagi, Duhai Rasul, yang kautunjukkan dalam tujuh dinar yang tersisa di balik tikarmu yang keras dan membekas? Ketakutan perjumpaan dengan Allah dengan harta yang tersisakah? Duhai Rasul, ajarkan kami sekali lagi.
Duhai Rasul, salam bagimu saat engkau diwafatkan

Namun, ketika kegembiraan Abu Bakar dan Muslimin menjelma ketika shubuh pagi itu, engkau pergi ke masjid dan duduk di sisi Abu Bakar dalam sholata, usai itu justru engkau teramat lemah, duhai Rasul. Engkau melihat maut sudah makin mendekat. Tidak sangsi engkau, bahwa hidupmu hanya tinggal beberapa saat saja lagi. Apakah lagi yang engkau perhatikan pada detik-detik yang masih ada sebelum engkau berpisah dengan dunia ini? Adakah engkau mengenangkan hidupmu sejak diutus Allah sebagai pembimbing, Nabi, Rasul, dan uswah yang sempurna, mengenangkan segala yang engkau alami selama itu, kenikmatan yang Allah anugerahkan hingga selesai, kemudian hati merasa lega karena kalbu orang-orang Arab itu sudah terbuka menerima agama yang hak? Ataukah selama itu, engkau tinggal hanya membaca istighfar dan dengan seluruh jiwa engkau lakukan selama dalam hidupmu? Ataukah menyebut-nyebut umatmu, “ummatii … ummatii … ummati”, karena khawatirmu pada umatmu? Ataukah juga dalam saat-saat terakhir itu engkau harus menahan penderitaan sakaratul maut, sehingga tidak lagi punya tenaga akan mengingat?

Dan ketika di pangkuan Aisyah, istri tercinta, engkau hanya sanggup berujar, “Rafiqul A’la minal Jannah (handai taulan tertinggi dari surga)”. Engkau telah dipilih, maka engkaupun telah memilih. Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, lantas, engkau, Rasulullah berpulang sambil masih bersandar pada Aisyah.

Duhai Rasul, salam bagimu saat engkau diwafatkan.

——

Sumber :

  1. Departemen Agama Republik Indonesia, Al Quran dan Terjemahannya, 1990.
  2. HAMKA, Prof. Dr., Tafsir Al Azhar, 2002.
  3. Muhammad Husein Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, sebagaimana dikutip dari http://media.isnet.org/islam/haekal/muhammad, cetakan kelima, 1980.
  4. H.A.A Dahlan, Maulid Al Barzanji : Terjemah Indonesia Arab Latin, tanpa tahun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: