Ayat-ayat Cinta

Benar, apa yang pernah disampaikan Gunawan Muhammad, bahwa bahasa tulis (baca:puisi, novel dan sejenisnya) memiliki kekuatan luar biasa, lebih dari bahasa lainnya. Dan, entah mengapa, hari ini aku ingin banget menjadi pengamat seni, dan itu aku lakukan pada sebuah novel fenomenal dan film yang mungkin juga fenomenal, Ayat-ayat Cinta. Aku menggunakan asumsi GM tadi, bahwa bahasa tulis memiliki kekuatan luar biasa. Di samping itu, saya juga mengabaikan banyak dialog, talkshow dan beberapa data seputar pembuatan film ini, justru untuk bisa mengamati film ini, hanya sebagai film yang diangkat dari sebuah novel. Saya juga mengabaikan pembenaran, justifikasi produser dan sutradara, serta keterbatasan yang dimiliki sebuah film.

Film ini sangat berbeda dengan novelnya. Tidak sekedar berbeda, namun juga sangat berbeda. Karakter yang dibangun untuk setiap tokohnya telah sangat berbeda. Jika di novel, misalnya Fahri adalah tokoh yang sangat sempurna untuk ukuran manusia muda di lingkungan pendidikan dan budaya yang berbeda. Di film ini, Fahri justru dibangun lebih manusia dan bukan lagi tokoh dari langit. Juga tokoh Aishah, Nurul, Maria. Dan bukan hanya karakter tokohnya, namun juga tokohnya. Kita akan kehilangan Yousep dan ayahnya, juga kolonel Ridha. Mungkin karena jalinan cerita yang memang telah sangat berubah. Hanya Noura, yang tetap dibangun dengan seadanya, lengkap dengan penderitaannya dan cinta butanya pada Fahri. Saya justru melihat, dia tokoh utama dalam film ini yang menjadikan film nampak sebagaimana novelnya.

Setting juga mengalami perubahan (baca : penyesuaian) luar biasa. Anda tidak akan menemukan setting Mesir dengan panas yang luar biasa ketika kemarau menyergap, kecuali nuansa padang pasir yang muncul di beberapa peralihan setting. Anda yang telah membaca novelnya, akan kehilangan nuansa trem, masjid-masjid, internet, cafe kecil, restorant dengan panorama Nil malam hari, dan masih banyak lagi. Tapi, jangan kecewa, karena ini bagian dari penyesuaian yang dipilih produser dan sutradara. Anda nggak boleh protes sama sekali.

Dan bagian paling penting yang berbeda adalah misi cerita dari bagaimana sebuah novel membangun jiwa dan cinta dengan ajaran dan ajakan moral yang komplit, hanya (maaf) menjadi dramatisasi poligami dan cinta buta banyak wanita pada seorang laki-laki. Tidak salah. Karena memang muatan yang diemban sang novel sudah sangat berat, sehingga film dengan rangkaian keterbatasannya pun tidak akan sanggup. Untungnya di banyak bagian, pesan moral, pesan agama dan pesan nilai-nilai universal masih muncul dengan leluasa.

Satu lagi, jika Anda adalah penggemar cerita spiritual, maka Anda juga akan kehilangan sakitnya Fahri yang digambarkan dengan pengalaman spiritual yang luar biasa. Juga Anda akan kehilangan mimpi Fahri berjumpa dengan Sahabat Mulia, Abdullah bin Mas’ud, tokoh pujaan dalam pengembaraan ilmu Al Quran. Anda juga akan kehilangan mimpi Maria bersua dengan Maryam yang mulia yang berujung pada kematian Maria.

Anda pasti akan kehilangan banyak hal. Seperti juga aku, yang menyelesaikan membaca novel Ayat-ayat Cinta di Idul Adha dua tahum silam, kemudian membacanya berulang-ulang. Tapi, sekali lagi, jangan kecewa, karena Anda juga tidak akan kehilangan banyak hal. Film ini tetap saja bagus, sangat bagus malah, di antara film horor atau cinta ABG.

5 Komentar »

  1. Cabe Rawit said

    Terlepas dari banyaknya ungkapan kekecewaan para penonton AAC, ane kira film ini bisa dikatakan sebagai langkah besar untuk memperbaiki citra perfileman kita yang sudah kadung identik dengan horo atau cinta ABG seperti yang abang bilang…

  2. setuju ma cabe rawit…ayo para sutradara, bikin pelm endonesia yg lebi bermutu….!!!

  3. pancarani said

    mungkin kalo yang menggarap sutradara spt Deddy Miswar akan lebih mendalam penyampaian pesan moralnya kali ya…..

  4. tridewita said

    Setuju apa yang disampaikan kangmas, dalam film AAC banyak kehilangan yang membuat kita agak2 protes karena bukunya sudah hapal kita baca, tapi bagi yang belum baca bukunya pastilah film AAC ini luar biasa, tapi ditengah kepungan film hantu yang bergentayangna, film AAC bagai setitik air ditengah gurun gobi,mnyejukkan.., pokoknya jempol deh….

  5. tridewita said

    Memang banyak kehilangan ceritanya..kurang lengkap tetapi ada cerita yang ditambah oleh sutradara , cerita poligaminya diberi porsi tersendiri padahal di novelnya tidak demikian.

    tetapi ditengah2 dahsyatnya film 40 hari bangkitnya pocong dan film2 hantu lainnya, film AAC sungguh menjadi tidak biasa, jempol deh…….

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: