Mencobalah

Anak saya yang pertama, Zulfa, suka banget berenang. Suatu saat, bersama saya dan adiknya, kami berenang di sebuah kolam renang sederhana di Purwakarta. Dia dan adiknya, Zakya, hanya berendam di kolam yang dangkal, berlarian di air, atau sekedar menyelam.

Melihat itu, saya bilang padanya, “Kak, maen serodotan, yuk, di kolam yang itu.”

Nggak Pa, ah, takut”

Bareng Papa. Nanti Papa tangkap pas di bawah”

Nggak ah, nanti kalo lepas gimana?”

Saya tetap mencoba menyakinkan hingga pada akhirnya dia bersedia. Kali yang pertama, dia naik ke atas serodotan dan saya menunggu di kolam. Agak dalam memang, tapi saya fikir, dia tidak akan tenggelam.

“Ayo”, kata saya ketika dia sudah di atas.

“Takut, Pa”

Nggak papa

Akhirnya, dia nyerodot turun dan kemudian dengan sengaja saya melepasnya. Dia terjerembab, tapi berhasil bangun dan tidak tenggelam.

“Hooreee”

Gimana, enak? Mau lagi?”

Dia tidak menjawab, justru keluar dari kolam dan naik lagi ke serodotan itu. Turun lagi tanpa harus saya berada di kolam. Berulang-ulang.

—–

Mencoba adalah keniscayaan bagi manusia. Tuhan menciptakan manusia dengan keniscayaan proses menuju sempurna. Bayi lahir dengan tangisan saja, kemudian belajar mendengar, menyebut Pa … Pa atau Ma … Ma atau ma … mam. Dia kemudian tengkurap, merangkak dan pada akhirnya tertatih berjalan. Menjadi dewasa sekarang ini pun, manusia tetap melalui tahapan mencoba. Dia belajar untuk mengatasi batasan yang membelenggunya.

Nah, suatu hari, dalam sebuah proses organisasi, bisa jadi kita hendak mencoba sesuatu. Belum bisa benar dikatakan, kita akan berhasil atau sukses. Namun kita telah berupaya benar untuk meminimasi kemungkinan kegagalan. Tapi, sekali lagi kita hanya tengah mencoba. Ayah yang baik bagi anaknya, akan mendorong anaknya untuk berhasil ketika mencoba. Dia berada di sekitarnya dengan arahan, bimbingan, bahkan pendidikan kecil untuk membuatnya bangga mengerjakan sesuatu, bangga mencoba sesuatu.

Seorang pemimpin adalah ayah bagi anaknya, guru bagi muridnya, juga sahabat bagi sahabatnya. Dia harus berkenan untuk mendampingi (tidak selalu secara jasad), mendukung dengan arahan, bahkan doa keberhasilan. Seorang Ayah menyediakan doa untuk keberhasilan anaknya. Seorang guru menyediakan waktu untuk muridnya bertanya. Seorang sahabat menyediakan bahu untuk sahabatnya menangis, ketika hanya kegagalan yang tersisa. Menyediakan ruang untuk sahabatnya bercerita dan menemukan jawab atas tiap tanya.

Kita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: