Sok Tahu

Sok tahu, kamu !

Bbbbrrrr, air yang baru saja kuminum, tak tertahan dan nyembur ke segala arah. Aku tengah minum, ketika dia masuk menerobos pintu tanpa mengetuk dan memakiku sok tahu. Ada apa ini? Belum sempat aku bertanya, dia terlebih dahulu menyemprotku lagi,

Kamu pikir, kalau kamu bos, kamu bisa anggap anak buahmu nggak bisa melakukan banyak hal dengan benar?

Kamu pikir, kalau kamu pintar, kamu bisa anggap orang lain bodoh dan nggak bisa mengerjakan sesuatu?

Kamu pikir, kalau kamu benar, kamu bisa anggap orang lain selalu salah dan nggak becus kerja?

Memangnya siapa kamu, yang bisa merasa benar sendiri, pinter sendiri, meskipun benar kamu itu bos di sini.

Aku benar-benar tergeragap. Bukan karena dia begitu bersemangat, tidak sopan dan ngomong dengan berduyun-duyun, tapi karena semua yang dikatakannya benar semata. Aku memang begitu. Aku sama sekali tidak pernah memberi ruang yang cukup bagi anak buahku untuk bisa mengembangkan diri. Aku terlalu menguasai semua tugas, bahkan yang paling sepele, sehingga tidak ada sedikitpun ruang bagi anak buahku untuk belajar mengerjakannya. Aku hanya memberikan tugas-tugas rutin yang sama sekali tidak memerlukan inovasi, karena memang sudah sangat rutin.

Tapi, aku tidak menganggap mereka bodoh! Tidak pernah! Pernah satu kali kuberikan tugas mereka agak berat dan memerlukan pemikiran, dan ujungnya tugas itu tidak pernah selesai dan lagi-lagi kemudian aku yang harus menyelesaikannya. Di lain waktu, aku pernah memberikan tugas agak berat lain lagi, yang muncul justru jawaban yang pesimis dan tidak bersemangat untuk mengerjakannya. Huh, benar-benar menjengkelkan, dan tugas itu kembali padaku.

Apa yang salah kalau begitu? Lagi-lagi, aku belum sempat membalas sumpah serapahnya, dia kembali menerorku,

Kalau kamu memang merasa bos, ajak mereka berkembang bersama, beri arahan yang cukup dan kalau perlu dikte satu persatu.

Kalau kamu memang merasa pinter,” katanya sambil menunjuk jidatku, “ajari mereka untuk juga seperti kamu.

Kalau kamu memang merasa bener, kasih tahu mereka mana yang benar dan mana yang salah. Jangan cuma bisa menyalahkan, dan  nuntut mereka bener terus.

Usai menggebrak meja, dia pergi begitu saja. Dan aku tergeragap bangun. Tidak ada siapa-siapa ketika aku meleongok ke luar. Bah, mimpi rupanya aku. Jam 12 malam? Aku harus segera pulang, bisa nggak dikasih pintu nanti.

5 Komentar »

  1. D said

    emang susah ya jadi bos.. *prihatin*
    musti punya ilmu jadi bos dulu
    supaya semuanya jadi lebih mudah dijalani.

  2. saya juga kadang ga ngerti…kenapa harus saya yg disuru-suru..??
    saya kan tidak pintar…hhh…tapi ya karna dipaksa juga akhirnya bisa juga si…
    tapi ya gitu akhirnya….kenapa harus saya…??

    cape.

  3. davikoktavian said

    eduan tenan..!tks atas pencerahan nya..

  4. zul said

    seharusnya jangan jadi Bosss, jadilah pemimpin….

  5. moumtaza said

    terima kasih, Da, telah mengajariku menjadi pemimpin …

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: