Bekerja dengan Cinta

Anda mungkin pernah mendengar kisah tentang seorang Ibu tua, gemuk dengan senyum jenaka dan lesung pipit yang membuatnya tetap cantik. Dia adalah seorang pedagang nasi yang supermurah bagi kuli-kuli bangunan di sebuah proyek. Bagi kuli-kuli itu, dia adalah primadona. Bukan karena cantiknya, karena usianya sudah setengah baya. Bukan karena lezatnya makanan, karena nasi bungkusnya tidaklah terlalu istmimewa, hanya nasi dengan sedikit lauk, itupun dengan bumbu yang seadanya. Tapi karena harganya yang supermurah.

Ibu cantik itu, ketika ditanya, adakah untungnya, dia hanya tersenyum untuk kemudian menjawab, “sekedar saya bisa nderek makan gratis dan beli sabun.”

Dan ketika ditanya, mengapa tidak dinaikkan saja harganya seiring harga beras, minyak dan bumbu yang tidak tertahan, sekali lagi dia tersenyum dan menjawab, “terus, bagaimana mereka makan?

Duhai, saya sering menangis jika membaca kisah ini. Membacanya berulang-ulang dan menangis berulang-ulang. Kisah ini hampir saya hafal. Saya, bahkan tidak peduli benar ini sebuah kisah nyata atau hanya rekaan untuk membangun motivasi berkarya. Dia seperti tukang ojek dalam kisah saya sebelumnya. Dia mengajarkan saya untuk bekerja demi kesejahteraan hidup manusia, meskipun untuk itu, mungkin dia tidak mendapatkan keuntungan materi apapun.

Saya? Jauh dari semua gambaran itu. Padahal saya bekerja di sebuah perusahaan yang memungkinkan saya bekerja demi kesejahteraan hidup manusia. Saya belum sepenuhnya bekerja untuk itu semua. Saya ingat benar, seorang Pejabat di perusahaan saya pernah mengingatkan,

Perusahaan kita adalah ladang amal bagi kita. Perusahaan ini membuka ruang seluas-luasnya bagi kita untuk berguna bagi sesama. Bayangkan, ketika kita berupaya benar memudahkan seseorang untuk membangun silaturrahim, karena seolah kita sendiri yang tengah bersilaturrahim. Dan semua nilai, semua agama sepakat, bahwa silaturrahim adalah bagian penting ibadah. Bayangkan juga, ketika kita berupaya benar memudahkan seseorang untuk menjemput rizqinya. Bayangkan juga, ketika kita berupaya benar memudahkan urusan seseorang, maka Tuhan berjanji akan memudahkan urusan kita kelak di Hari Kemudian.

Saya? Sekali lagi, sangat jauh dari gambaran itu, bahkan untuk hal yang dipesankan Pimpinan itu. Saya masih memiliki ratusan ambisi lain di balik kerja keras yang saya lakukan, di balik kerja malam tak kenal lelah yang saya lakukan. Dan seluruh ambisi itu berujung pada diri sendiri. Saya? Seperti itulah. Entah Anda …

5 Komentar »

  1. RMulyati said

    Jadi inget ayat ini “Bekerjalah Allah, Rasul dan orang orang beriman akan melihat kerjamu”

  2. moumtaza said

    makasih, Mbak. cocok juga untuk yang Tetaplah Bekerja🙂

  3. pancarani said

    indah sekali….

  4. Koen said

    Catatan harian Gie, yang menginspirasiku untuk memulai menulis catatan harian, dan sekian tahun kemudian merambah ke blogging🙂

  5. moumtaza said

    makasih Mas Koen. makanya liputannya keren banget, dah tradisi …🙂

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: