Ki Hajar (2)

Beberapa kawan saya (termasuk D) protes tentang tokoh rekaan bernama Ki Hajar. Adakah tokoh sesempurna itu? Seorang pemimpin dengan kharisma, kesederhanaan, keterlibatan bahkan kerendahan dan kebersihan hati yang demikian sempurna. Bisa jadi ada, bisa jadi juga tidak ada. Ada, karena secara terpisah, seluruh sifat itu pasti pernah dimiliki puluhan, ratusan, ribuan bahkan jutaan pemimpin yang pernah menorehkan sejarah prestasi kepemimpinan yang gemilang. Tidak ada, karena pemimpin juga manusia, yang diciptakan Tuhan dengan kesempurnaan, namun sekaligus memiliki potensi ketidaksempurnaan.

Ya, tiap manusia diciptakan sempurna, namun dengan potensi ketidaksempurnaan yang luar biasa. Dia memiliki rasa. Namun, sebagai pemimpin, dia ditakdirkan berbeda. Ada banyak tuntutan yang harus dipenuhi karena takdirnya sebagai pemimpin. Dia dibayar untuk itu. Sekali lagi, ini bukan soal harta, karena pembayaran tidak selalu berupa itu. Ini juga soal kepercayaan, soal pahala dan dosa, soal darma dan karma, dan banyak lagi.

Meskipun sebagai manusia dia punya kecemasan dan ketakutan, tetap saja dia harus tunjukkan keberanian dan ketabahan hati. Bayangkan, jika seorang pemimpin menunjukkan kecemasan, maka seluruh ketakutan dan kepanikan akan merona di seluruh wilayah nagari. Meskipun sebagai manusia dia punya keletihan dan kelelahan usai kegagalan yang mendera, tetap saja dia harus tunjukkan semangat. Dia tetap harus mengajarkan dan menularkan semangat kepada rakyatnya, bahwa takdir berada di ujung ikhtiar, di ujung segala usaha.

Dia harus sempurna, karena dia menjadi teladan. Dia harus yang pertama mencangkul, saat musim tanam tiba, karena dia seorang panutan. Dia harus yang terakhir menyantap hidangan, karena dia harus berbagi. Dia harus selalu tersenyum, meski kesedihan tengah mendera, karena dia harus melayani. Dia harus melakukan banyak hal baik, karena dia pemimpin.

Meskipun sebagai manusia dia memiliki hasrat diri : melindungi kepentingannya, juga kelompoknya, namun tetap saja dia harus berdiri di atas seluruh kelompok. Bisa jadi ~sangat bisa jadi~ dia tidak dapat membahagiakan seluruhnya, namun dia harus terus berjuang untuk itu. Sekali lagi, karena dia dibayar untuk itu.

Aku pun tengah belajar. Kuawali dengan bermimpi hidup di awan dan mega, di antara catatan kesempurnaan. Dengan begitu, aku mengerti, di mana aku tinggal. Selebihnya, bantu aku untuk tidak ketento

2 Komentar »

  1. davikoktavian said

    terima kasih, tulisan ini sgt pas untuk saya agar lbh pandai introspeksi, anyway bukankah untuk introspeksi diri pun butuh keberanian?🙂

  2. moumtaza said

    syukron, Bang. benar, untuk instropeksi butuh keberanian, dan tak banyak yang punya itu …

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: