Ki Hajar

Di sebuah nagari di sisi lembah yang hijau hiduplah Ki Hajar. Ki Hajar adalah seorang pemimpin di nagari itu. Orangnya tegap dan gagah, ditempa alam yang memberinya nafas hidup. Wajahnya bersih disapu kerendahan hati yang sempurna, dan kulit tubuhnya legam ~namun bersih~ dibakar matahari. Ki Hajar adalah seorang pemimpin. Meski demikian, tetaplah bersahaja. Kepada setiap orang di nagari itu, dia ramah dan sopan. Bertegur sapa dengan tulus, tanpa basa-basi yang dibuat-buat.

Ki Hajar adalah seorang pemimpin, dia juga seorang pengajar. Kepada setiap orang, dia mengajarkan arti hidup, dalam ratusan sisi yang membentuknya. Dia tidak hanya berceramah di sudut pagi, namun juga membangunkan matahari. Dia tidak hanya bergumam di teriknya matahari, namun juga menganyam waktu dengan keringat. Dia tidak hanya tertatih di kala senja, namun juga memikul cangkul kepenatan. Dia tidak hanya berujar di pelataran malam ketika purnama sempurna, namun juga turut berdendang penuh kegembiraan. Itulah Ki Hajar, seorang pemimpin.

Ketika musim tanam tiba, dibangunkannya orang-orang dari kegelisahan paceklik. Diajaknya mencangkul ratusan tumbak ladang, dan dia turut serta. Diajarkannya memilih kerbau untuk membajaknya, dan dia turut serta. Dipilihkannya benih-benih terbaik, ditancapkanya tiap benih dengan tangan kekarnya, dan dia turut serta. Dan ketika istirah datang, penat menjelang, dia minum seteguk terakhir dari cangkir terakhir.

Dalam masa menanti benih bersemai di ladang yang dibuka dengan semangat, diajarkannya falsafah dengan kerendahan jiwa. Dinyanyikannya tembang-kidung-gita cinta sesama. Semua mengalir seperti aliran sungai yang membelah lembah hijau itu.

Dan ketika musim panen tiba, dialah yang pertama melepas baju dan menaikkan ujung celana buat membenamkan kakinya pada lumpur ladang mereka. Dialah yang pertama memotong padi-padi kuning-bulat-berisi itu dengan tangan kekarnya. Dialah yang pertama memanggul bongkahan hasil bumi mereka. Dialah yang membaginya dengan adil. Namun, dialah yang terakhir menyantap hidangan. Ya, dialah yang terakhir menyantap hidangan. Juga keluarga dan sahabat terdekatnya. Tak ada hasrat untuk mendahulukan mereka.

Dan ketika permusuhan antarnagari tak terhindarkan di atas jalan damai yang dimungkinkan, dialah yang berdiri paling depan menyongsong musuh. Dialah yang memegang tombak dan parang. Dialah ~mungkin~ yang pertama terluka, bahkan tewas menyabung nyawa ….

Artikel ini entah saya dapatkan dari mana, namun semoga berharga untuk dibagi …

4 Komentar »

  1. davikoktavian said

    luar biasa…! andai kita semua bisa seperti dia,..

  2. Dina said

    Sempurna sekali Ki Hajar.. apakah ada makhlusk sesempurna ini di dunia? ceritanya jangan terlalu berbau dongeng dong mas. ‘ngabobodo budak cengeng’ kata orang Sunda mah.

  3. moumtaza said

    Gak papa, kan Di. Sesekali hidup di antara awan dan mega. Berkhayal tentang kesempurnaan. Dengan itu kita bisa berkaca dan menemukan di mana kita. Makasih, Di.

  4. Dina said

    Kalau diceritakan bahwa ki Hajar punya kebimbangan dan kegalauan hati, lalu pernah juga merasa pesimis namun akhirnya menimbulkan landaaan motivasi yang kuat… aku terima deh..
    Lah.. blog blog siapa kok protes hihihi…
    maaf ya mas.. of course you can write anything you want right here, after all it’s your blog.
    Sorry..

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: