Salah Paham

Diambil dari Cerita Motivasi dan diceritakan kembali dengan format yang sedikit berbeda.

Di sebuah gedung pertemuan, seorang pejabat senior sedang menyelenggarakan pesta ulang tahun perkawinannya yang ke-50. Usai rangkaian acara hiburan yang memukau seluruh hadirin, Sang Pejabat mendentingkan gelas sebagai tanda mohon perhatian hadirin, sambil menunjukkan sebuah nampan berisikan seekon ikan emas yang telah dimasak, ia berkata,

“Hadirin sekalian, ikan emas ini bukanlah ikan yang mahal, meskipun dimasak oleh koki terkenal dan diletakkan di atas nampan indah yang mahal. Tetapi, inilah ikan kegemaran kami berdua, sejak kami menikah dan masih belum punya apa-apa, sampai kemudian di usia perkawinan kami yang ke-50 dengan segala keberhasilan ini. Ikan emas ini tetap menjadi simbol kedekatan, kemesraan, kehangatan, dan cinta kasih kami yang abadi.”

Seluruh hadirin khidmat menyimak prosesi di mana Sang Pejabat mengambil piring, lalu memotong ikan itu menjadi tiga bagian : kepala, badan dan ekor ikan emas. Dengan senyum mesra dan penuh kelembutan, ia berikan piring berisikan potongan kepala dan ekor ikan emas tadi kepada isterinya. Ketika tangan sang isteri menerima piring itu, serentak hadirin bertepuk tangan dengan meriah sekali. Untuk beberapa saat, mereka tampak ikut terbawa oleh suasana romantis, penuh kebahagiaan, dan mengharukan tersebut.

Namun suasana tiba-tiba jadi hening dan senyap. Samar-samar terdengar isak tangis Sang Istri. Sesaat kemudian, isak tangis itu meledak dan memecah kesunyian gedung pesta. Para tamu yang awalnya ikut tertawa bahagia mendadak terdiam dan menunggu apa gerangan yang akan terjadi. Sang Pejabat tampak kikuk dan kebingungan. Lalu ia mendekati isterinya dan bertanya,

“Mengapa engkau menangis, isteriku?”

Lama terdiam.

Hening.

Setelah tangisannya reda, dengan masih terisak-isak Sang Isteri menjelaskan,

“Suamiku … sudah 50 tahun usia pernikahan kita. Selama itu pula, aku telah dengan melayanimu dalam duka dan suka tanpa pernah mengeluh. Demi kasihku kepadamu, aku telah rela selalu makan kepala dan ekor ikan emas selama 50 tahun ini. Tapi sungguh tak kusangka, di hari istimewa ini engkau masih saja memberiku bagian yang sama.”

Dia terdiam sejenak, berusaha keras menahan tangis,

“Ketahuilah suamiku, itulah bagian yang paling tidak aku sukai.”

Sang Pejabat terdiam dan terpana sesaat. Lalu dengan mata berkaca-kaca, menahan tangis, ia berkata kepada isterinya,

“Isteriku yang tercinta … 50 tahun yang lalu saat aku masih miskin, kau bersedia menjadi isteriku. Aku sungguh-sungguh bahagia dan sangat mencintaimu. Sejak itu aku bersumpah pada diriku sendiri, bahwa seumur hidup aku akan bekerja keras, membahagiakanmu, membalas cinta kasih dan pengorbananmu.”

Sambil mengusap air matanya, Sang Pejabat melanjutkan,

“Demi Tuhan, setiap makan ikan emas, bagian yang paling aku sukai adalah kepala dan ekornya. Tapi sejak kita menikah, aku rela menyantap bagian tubuh ikan emas itu. Semua kulakukan demi sumpahku untuk memberikan yang paling berharga buatmu.”

Sang pejabat terdiam sejenak, lalu ia melanjutkan lagi,

“Walaupun telah hidup bersama selama 50 tahun dan selalu saling mencintai, ternyata kita tidak cukup saling memahami. Maafkan aku, Istriku, hingga detik ini belum tahu bagaimana cara membuatmu bahagia.”

Akhirnya, Sang Pejabat memeluk isterinya dengan erat. Tamu-tamu terhormat pun tersentuh hatinya melihat keharuan tadi dan mereka kemudian bersulang untuk menghormati kedua pasangan tersebut. Pasangan yang baru saling memahami setelah mengaruhi bahtera hidup bersama selama 50 tahun.

Selanjutnya, saya justru tidak hanya ingin mengaitkan cerita ini hanya sekedar hubungan suami istri, namun mengaitkannya dalam banyak hubungan. Hubungan orang tua dan anak, atasan dan bawahan, guru dengan murid, bahkan antarsahabat, antarrekan kerja, antartetangga. (baca juga :  Yang Muda Yang Gak Dipercaya). Kita ~terutama saya~ selalu melihat sesuatu dari kaca mata kita. Bahkan seringkali ditambah prasangka. Padahal prasangka adalah hanyalah debu dalam kaca mata kita yang hanya akan mengaburkan pandangan mata kita.

Kisah di atas mengajarkan untuk saling memahami. Dan pemahaman dimulai justru dengan pertanyaan yang dilanjutkan dengan kesediaan untuk mendengar. Ingat, kita punya dua telinga dan itu lebih banyak dari jumlah mulut kita yang cuma satu buah. Kita lebih banyak berbicara, jauh lebih banyak dari kesediaan kita mendengar. Dan akhirnya pemahaman diakhiri dengan sebuah hal : kerendahhatian untuk mencintai apa adanya ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: