Pujilah Dia

Terhadap paragraf terakhir tulisan saya yang lalu (baca lagi :  Pergokilah dalam Kebaikan), beberapa kawan bertanya, itu cerita sesungguhnya atau hanya ada dalam khayalmu? Saya hanya memilih diam dan tersenyum saja. Saya sangat sadar, beberapa penanya sebenarnya lebih tahu, lebih mengerti hal sebenarnya. Saya memilih diam, membiarkan kawankawan terbaik saya itu untuk menterjemahkannya dalam pengertian mereka sendiri. Bagi kawan saya yang tahu bahwa itu benar adanya, biarlah dia belajar untuk tidak mengulanginya saat dia menjadi atasan. Dan bagi kawan saya yang tahu benar, bahwa itu khayalan belaka, biarlah juga dia tahu untuk tidak membawanya ke alam nyata.

Namun, saat ini saya ingin membawa Anda pada sebuah film yang ditayangkan di sebuah stasiun TV malam Senin lalu. Judulnya saya lupa, tapi film itu adalah skuel kedua. Bercerita tentang seorang gadis yang menjadi pekerja hukum di sebuah firma yang dibangunnya justru dengan mengedepankan beberapa faktor non-hukum, seperti fashion, hewan piaraan, bahkan warna pink.

Dalam sebuah kegagalan atas upaya untuk menggoalkan target, sang tokoh teramat kecewa dan memilih menyendiri. Kawankawan satu firmanya datang dan membawa sebuah guci berisi berlembar kertas pujian. Dibacanya satu persatu, dan pelanpelan kekecewaannya hilang dan menjelma menjadi semangat yang lebih menggelora.

Pujian adalah bahasa sederhana tentang ketulusan. Dalam beberapa hadits, Nabi Muhammad menyampaikan pujiannya atas seorang sahabat dengan sangat terbuka. Namun tidak sebuah hadits pun saya baca, Nabi menyebutkan keburukan sahabat, mencelanya secara pribadi kepada sahabat secara terbuka. Saya yakin, nilai itu teramat universal, karena dalam manajemen modern pun kaidah pujian dan celaan terhadap orang lain diatur dengan sangat santun.

Pujian yang tulus adalah hadiah yang tidak ternilai harganya. Dia mungkin lebih berarti dari sebuah surat promosi biasa. Pujian melahirkan semangat dan menggelorakannya untuk menata kembali langkah untuk meraih kembali keberhasilan yang pernah tertunda.

Idiom psikologi terkenal pernah menyebut, seorang anak (baca : staf) yang hidup dalam gelimang pujian, dia akan belajar menghargai dan seorang anak yang hidup dalam kubangan celaan akan belajar untuk rendah diri.

Pada bagian mana Anda memilih, pada bagian itu Anda akan mendapatkannya …

5 Komentar »

  1. bettyti2 said

    hal sederhana yang sangat berarti…

  2. supriyono said

    apik tenan sampaikan ki yen nulis….salut….

  3. supriyono said

    semoga berkenan mampir juga di rumah gilaku…. http://5upri@multiply.com

  4. supriyono said

    sorry Mas Priyo alamanya salah yang bener ininih…. http://5upri.multiply.com/

  5. moumtaza said

    Luar biasa, Mas … sederhana dan dalllllem banget

    Tidak untuk diratapi yang mengamati
    Tapi untuk dinikmati yang mengalami

    Salam

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: