Pergokilah dalam Kebaikan

Ada yang saya temukan dalam sebuah pelatihan kepemimpinan, yakni idiom yang kemudian saya pilih sebagai judul tulisan ini : pergokilah dalam kebaikan. Kalimat lengkapnya adalah pergokilah staf Anda, putra Anda, kawan Anda atau siapapun ketika dia tengah berbuat baik, dan upayakan semampu Anda untuk tidak memergokinya ketika dia tengah berbuat buruk.

Telah menjadi kecenderungan hampir semua orang untuk berkeinginan memergoki orang lain ketika tengah berbuat salah. Seperti halnya kisah seorang pemimpin yang berdiri di depan pintu lobby kantornya selepas jam masuk kantor, sekedar untuk memergoki stafnya yang datang terlambat dan menyalaminya dengan mengucapkan, “Selamat siang“.

Sangat berbeda dengan kisah saya tentang sufi yang juga berprofesi sebagai pedagang. Nama sufi itu saya lupa, tapi di belakang nama sufi terkenal dibubuhi sebuah predikat Si Tuli. Penyematan predikat itulah yang ingin saya kisahkan. Suatu hari sufi itu tengah berdagang dan kepadanya datang seorang pembeli. Tanpa sengaja dan tanpa mampu menahan, sang pembeli buang angin (maaf, kentut) dan menimbulkan bunyi yang cukup keras. Sang sufi mendengar, namun memilih untuk pura-pura tidak mendengar, hingga ketika terjadi tawar menawarpun, Sang Sufi tetap bersikap seolah-olah dia tuli, hingga akhirnya sang pembeli berfikir, suara kentutnya pasti juga tidak terdengar.

Memergoki seseorang ketika dia menorehkan prestasi akan menumbuhkan semangatnya untuk terus berprestasi, sedang memergoki seseorang ketika berbuat salah tidak akan menjamin dia tidak akan mengulangi perbuatan salahnya. Kalimat itu yang saya tangkap ketika fasilitator pelatihan itu mengungkapkan idiom aneh itu.

Sikap seseorang ketika memergoki seseorang tengah berbuat sesuatu menunjukkan rasa yang berada di baliknya. Ketika seorang pemimpin berbahagia, memergoki stafnya berbuat baik, maka yang ada di benaknya adalah sikap waspada. Namun ketika seorang pemimpin berbahagia, justru ketika memergoki stafnya berbuat tidak baik, maka yang ada di benaknya adalah sikap curiga, sikap yang semestinya tidak pernah dimiliki seorang pemimpin.

Saya ingin mohon maaf, bahwa tulisan ini terasa meloncat-loncat, namun saya justru ingin meloncat pada alam khayal saya. Dalam khayal saya, ada seorang pemimpin yang teramat bahagia justru menyaksikan stafnya berbuat salah atau tidak mampu bekerja dengan baik. Ketika stafnya tidak mencapai target yang diharapkan, disalahkannya sang staf. Pun ketika sang staf mencapai target yang ditetapkan, disalahkannya target yang terlampau kecil atau cara menghitungnya.

Uaaahhhh, sudah terlampau malam. Mungkin karena itu, saya jadi berkhayal …

2 Komentar »

  1. […] Terhadap paragraf terakhir tulisan saya yang lalu (baca lagi :  Pergokilah dalam Kebaikan), beberapa kawan bertanya, itu cerita sesungguhnya atau hanya ada dalam khayalmu? Saya hanya […]

  2. maap ya pae… tapi ini bukan dalam rangka memergoki kesalahan ya
    nama sebenarnya hatim al asham :
    http://www.sufinews.com/index.php?subaction=showfull&id=1103160622&archive=&start_from=&ucat=6&do=profil

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: