Tempayan Retak

(diilhami kisah Tempayan Retak dari Cerita Motivasi)

Alkisah di sebuah negeri, di mana semua makhluk, hidup maupun mati, dapat bercakap-cakap dalam bahasa yang sama, tinggallah seorang tukang air. Tukang itu memiliki dua tempayan besar, yang digunakannya untuk mengangkut air dari sebuah sumber mata air ke rumah majikannya. Masing-masing tempayan bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu tempayan utuh sempurna dan dapat mengangkut air sepenuh badannya. Sedang satu tempayan lagi, retak dan jikapun diisi penuh, isinya akan berkurang sepanjang jalan dan tinggal separuhnya. Anehnya, Sang Tukang Air selalu mengisi penuh kedua tempayan itu, meskipun dia sadar benar, sesampainya di rumah majikannya, Sang Tempayan Retak hanya akan tinggal separuh isinya, dan hal itu berlangsung berbulan-bulan lamanya, hingga pada suatu ketika Sang Tempayan Retak berkata kepada Sang Tukang Air,

“Saya sungguh malu kepada diri saya sendiri dan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya”

“Mengapa? Dan maaf untuk kesalahan apa?” tanya si tukang air.

“Saya hanya mampu membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa. Adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telah membuatmu rugi”.

Sang Tukang Air hanya tersenyum dan menjawab, “Esok, sekembali kita mengangkut air, perhatikanlah bunga-bunga di sisi jalan yang kita lalui”.

Dan saat itu tiba. Sang Tempayan Retak takjub akan keindahan bunga yang tumbuh di sepanjang jalan yang mereka lalui. Dia jadi mengerti, sebagian air yang diembannya keluar dan menyirami tiap bunga di sepanjang jalan itu dan bunga itu dapat tumbuh dengan subur dan berbunga dengan sangat indah.

Dia tersenyum dan sejak itu, dia berjanji untuk tidak rendah diri dan terus bersemangat menyambut pagi untuk dipenuhi dengan air dan menyirami setiap tangkai bunga sepanjang jalan itu.

Memikili kelemahan, sebagaimana memiliki kelebihan adalah sebuah keniscayaan bagi setiap makhluk. Percayalah, bahwa tidak ada yang sia-sia dari apapun yang Tuhan ciptakan. Adalah kewajiban kita, sebagai pemimpin atas diri kita, bahkan sebagai pemimpin atas beberapa bawahan kita untuk mengetahui setiap kelemahan kita atau bawahan kita.

Jika Sang Tempayan Retak mengajari kita tentang semangat untuk tidak rendah diri atas kelemahan yang kita miliki, maka Sang Tukang Air mengajari kita untuk mengenali setiap kelemahan yang dia miliki atau dimiliki oleh bawahannya. Dan Tuhan mengajari kita dengan menciptakan banyak jendela, ketika pintu kita tertutup. Tuhan mengajari kita dengan menciptakan kesulitan di antara dua bahkan banyak kemudahan. Tuhan mengajari kita untuk mengenali kelemahan setiap kita, dan di sanalah kita akan menemukan kekuatan kita.

Semoga kita tengah belajar …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: