Cermin

Setelah mengalami banyak editing, terutama pengetatan di banyak hal.
Cermin yang pernah Anda baca, kini muncul dalam format yang berbeda.
Selamat membaca.
Selamat becermin.

Cermin dalam pengertian lugas, adalah kaca yang dapat memantulkan bayangan. Dalam pengertian yang diperluas, cermin adalah segala sesuatu yang membuat sesuatu terpantul dan terbayang padanya. Dalam pengertian ini, telaga yang jernih airnya atau air kotor di selokan kita adalah juga cermin. Dalam pengertian ini pula, sebuah peristiwa adalah juga sebuah cermin. Puasa di bulan Ramadhan, oleh sebagian da’i disebut sebagai cermin, karena padanya kita merasakan lapar dan serba kesusahan yang dialami oleh Saudara kita yang kurang beruntung. Telaga teduh yang jernih airnya pun merupakan cermin, hingga dalam sebuah kisah, Nabi Isa membuang cermin yang dibawanya ketika melihat bayangan dirinya di telaga.

Tahun 2007 telah berakhir. Tahun 2007 telah menjadi sejarah. Namun sejarah adalah juga cermin bagi kita berkaca. Puluhan bahkan ratusan aktifitas telah kita laksanakan. Tak sedikit, bahkan, yang mampu diguratkan prestasi atasnya. Namun sejarah tidak selalu binar cahaya, tidak selalu terang rembulan. Namun juga kadang redup gerhana dan mendung berkepanjangan. Sejarah mengajarkan kita banyak hal, termasuk keputusasaan, kekalahan, pergulatan bahkan peperangan.

Telahkah Anda membuat prasasti atas upaya Anda di tahun 2007? Tidak harus berupa tugu besar atau tulisan indah di daun lontar. Hanya perlu setitik tinta yang diguratkan di atas kertas buram. Jika belum, mulailah. Karena percayalah, suatu saat Anda pasti akan ditanya. Jika hafalan Anda bagus dan Sang Penanya percaya, silakan saja ngecap tanpa data. Jika tidak, tiada salahnya mulailah ambil pena dan perlahan kembalikan kenangan Anda untuk kemudian mulai menulis.

Namun, mencobalah untuk jujur. Karena masalah yang lebih sering kita hadapi tatkala kita becermin adalah, bahwa kita telah menjadi sangat ketakutan sebelum kita memulai becermin. Kita takut, apa yang terpantul dari cermin kita adalah wajah buruk kita. Namun, karena ketakutan itu, janganlah lantas memutuskan untuk memoles dahulu wajah kita sebelum becermin. Kita keluarkan banyak biaya dan tenaga, bahkan waktu, untuk mempercantik diri. Hingga karena tebalnya, polesan kita nampak seperti topeng dan bukan lagi wajah kita. Kita berpatut diri, agar kita tidak lagi malu melihat wajah buruk kita. Kita mencoba tahu wajah kita, namun karena takut wajah buruk kita, kita menggantinya dengan topeng.

Mencobalah untuk becermin dan melihat tiap kerut merut muka kita. Dari sanalah, kita lantas mencoba mempercantik diri. Jadi becermin adalah upaya untuk memperbaiki diri. Karena, semestinya dengan melihat wajah asli kita, rupa sebenarnya kita, kita akan dapat menentukan akan dijadikan seperti apa wajah kita kelak. Semuanya, bergantung dengan nilai-nilai yang kita anut, bergantung pada banyak hal yang kita yakini sebagai kebenaran, dan tentu saja bergantung pada model karyawan seperti apa kita.

Mari becermin. Mari membuka ruang seluas-luasnya untuk melihat wajah kita. Mari, pada kesempatan pertama di tahun ini, kita membuka ruang dan waktu yang cukup bagi semua orang untuk membuat refleksi yang cukup. Bahkan, seorang kawan, mengusulkan untuk membuat pertemuan nonformal, di mana tiap kita melepas atribut kita dan berbicara dari hati ke hati. Pelepasan atribut ini haruslah dilakukan secara total, karena hal tersebut berarti, kita yang selama ini terlalu banyak bicara, bersiap untuk menjadi pendengar saja dan bagi kita yang telah terbiasa menjadi pendengar yang baik, saatnya menjadi pembicara.

Sederhana, bukan? Meskipun dengan jujur Penulis mengakui, hal tersebut sebagai keajaiban besar. Menjadi tugas kita menjadikan hal tersebut sebagai hal yang biasa, sangat biasa.

5 Komentar »

  1. Syukurlah….sudah bisa kembali, tulisan2 seperti ini sangat bermanfaat untuk memotivasi dan koreksi diri kita, semoga ruang seperi ini akan tetap ada di bekasi.

  2. moumtaza said

    🙂 makasih Mas …

  3. wiro said

    Mas Prio, sampeyan memang seorang karyawan yang seniman atau seniman yang karyawan, entahlah mana yang tepat. Yang jelas saya sangat kagum dengan tulisan2 sampeyan dan terbersit keinginan untuk belajar menulis dari Mas Prio. Dulu pernah saya ungkapkan ketika berkunjung ke Pwk & tips sampeyan adalah tulislah apa saja yang ada di kepala anda dan jangan takut salah karena setelah tertuang semua barulah kita dpt mengeditnya sesuai keinginan serta tata bahasa yang mengena/wajar.
    Untuk itu sudilah kiranya sampeyan menulis mengenai pembuatan blog khususnya yang gratis untuk dishare sehingga rekan-rekan yang membaca akan tergugah keinginannya untuk memiliki blog sendiri sebagai curahan hati pengganti diary (kaya anak sma aja)maupun sebagai sarana keluh kesah diri maupun motivasi diri sehingga mungkin beban pikiran sedikit terobati.
    Demikian saja saran dari saya semoga tdk merepotkan Mas Prio dan mohon maaf tulisan saya ini tdk terstruktur dengan baik, maklum bukan penulis hanya ingin belajar menulis. Semoga berkenan & terima kasih.

  4. Fino Arfiantono said

    Makasih banyak pak prio, bagus banget.. tapi kalimat yang paling berbekasi buat saya malah kalimat yang paling terakhir.. membuat keajaiban besar menjadi suatu hal yang sangat biasa… wew, how deep n wide🙂

  5. bowie said

    bercerminlah dari bianglala
    jangan sampai tidak dapat di akses lagi

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: