Yang Muda, Yang Gak Dipercaya

Pernah memperhatikan iklan rokok yang terkenal nyleneh? Salah satunya dan adalah edisi mutakhir mereka adalah Yang Muda Yang Gak Dipercaya. Saya melihat dua versi iklan tersebut, meskipun untuk ide dan semangat yang sama. Versi pertama adalah versi televisi, di mana seorang staff yang akan presentasi justru didandani layaknya seorang boss oleh atasannya. Sedang versi yang kedua adalah versi media cetak, berupa seorang boss yang tengah memegang wayang berwujud bawahannya. Kedua versi tersebut menampilkan tokoh yang sama, juga ide dan semangat. Di bagian akhir versi televisi, muncul tulisan khas iklan rokok tadi : Yang Muda, Yang Gak Dipercaya.

Apa yang Anda tangkap dari iklan tadi? Apa yang Anda fikirkan ketika melihat iklan tadi? Apa pula yang Anda lakukan setelah itu? Perkenankan saya berbagi beberapa hal sebagai jawaban saya atas pertanyaan di atas, meskipun bukan jawaban yang berurutan.

Hal pertama, iklan ini tidak melulu bicara soal tua dan muda dalam kaitannya dengan usia, meskipun bunyi iklannya seperti itu. Iklan ini justru bicara soal tua dan muda dalam banyak hal : usia, pekerjaan, pengalaman, pendidikan, wawasan dan masih banyak lagi.

Orang tua biasanya tidak percaya kepada anaknya. Dalam sebuah rerasan singkat saya dengan seorang ayah yang anaknya beranjak dewasa, kawan saya tersebut berkata, bahwa dia tetap saja merasa benar atas fikirannya untuk anaknya, dan tidak mempertimbangkan fikiran anaknya, meskipun dia sadar, anaknya tidak lagi kanak-kanak. Kawan saya yang lain menimpali, itu karena orang tua selalu berfikir, bahwa sedewasa apapun anak kita, dia tetap anak kita. Fikiran itu yang membuat kita (para orang tua) selalu merasa lebih pintar dan benar, karena kita lebih tua, dan anak kita selalu tidak lebih pintar dan benar, karena dia anak kita. Orang tua, karena fikirannya itu, kemudian memaksakan banyak hal kepada anaknya.

Saya tersenyum, ketika saya kemudian membayangkan, Anda sedang mengganti setiap kata orang tua, ayah dan sejenisnya dengan kata atasan dan mengganti setiap kata anak dengan kata bawahan. Apa yang tengah Anda bayangkan ? Bayangkan juga, jika Anda kemudian menggantikannya dengan banyak kata yang saling berhubungan, misalnya : sarjana dan lulusan SMA, atau sejenisnya. Apa pula yang tengah Anda bayangkan?

Saya sedang tidak mengajak Anda untuk berfikir setiap orang seperti cerita kawan saya itu. Saya pun tidak hidup dengan orang tua dengan fikiran seperti itu. Cerita kawan saya itu ada, bahkan mungkin di sebagian besar hubungan orang tua dan anak, pun dalam hubungan atasan dan bawahan.

Dalam sebuah kesempatan, seorang kawan saya pernah mengutip beberapa hal yang berkaitan dengan sikap atasan bawahan. Jika seorang atasan bekerja lambat, hal itu menunjukkan kehati-hatian, sedangkan jika seorang bawahan bekerja lambat, hal itu menunjukkan tidak responsive (bahasa aslinya telmi). Jika seorang atasan bekerja dengan cepat (dan kebetulan gagal), hal itu menunjukkan keberanian mengambil resiko, sedangkan jika seorang bawahan bekerja dengan cepat (dan kebetulan gagal), hal itu menunjukkan kecerobohan.

Saya hanya tengah tersenyum, entah Anda …

1 Komentar »

  1. […] bawahan, guru dengan murid, bahkan antarsahabat, antarrekan kerja, antartetangga. (baca juga :  Yang Muda Yang Gak Dipercaya). Kita ~terutama saya~ selalu melihat sesuatu dari kaca mata kita. Bahkan seringkali ditambah […]

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: