Ibu

Ibu adalah yang melahirkan kita. Dia bisa berujud apa saja. Dia ~bisa jadi~ adalah seorang perempuan yang mengandung kita dalam tradisi panjang kemengandungan yang melelahkan dan lantas melahirkan kita. Dia ~bisa jadi juga~ adalah sesuatu yang sama sekali jauh dari apa yang disebut perempuan. Dia ~sangat bisa jadi~ adalah sebuah peristiwa, atau waktu, atau bahkan bukan apa-apa dan siapa-siapa.

Ibu adalah yang melahirkan kita. Dan karena dia tidak mesti ’ibu’ [tanda petik ini memberikan tanda bagi penyempitan arti], maka bisa jadi kita lahir berulang kali dari puluhan, ratusan bahkan ribuan ibu yang berbeda. Ya, kita bisa jadi lahir berulang kali sepanjang hidup kita dan itu menjadikan hidup kita lebih bermakna.

Ibu adalah yang melahirkan kita. Lahir adalah menjadi berbeda ataupun berubah. Dalam artian sempit, lahir selalu dikaitkan dengan ’ibu’, ’hamil’ dan ’bayi’. Dalam alam fikir berbeda, lahir ~seperti telah disebut~ adalah menjadi berbeda ataupun berubah. Karenanya, seorang penyair pernah bertanya, apakah beda kematian dari kelahiran ? Dalam ~sekali lagi~ alam fikir yang berbeda, tidak ada perbedaan kematian dari kelahiran sebagai sebuah peristiwa. Jika seseorang mati, maka dia terlahir dalam alam yang lain, sebagaimana jika seorok bayi lahir, maka dia mati dalam alam sebelumnya. Begitu seterusnya, hingga tiada beda kematian dari kelahiran ~sekali lagi~ sebagai sebuah peristiwa.

Ibu adalah yang melahirkan kita. Ketika kita menjadi berubah ataupun berbeda, maka sebenarnya kita tengah berada dalam kelahiran baru kita. Idul Fitri adalah saat di mana kita ~sering disebut~terlahir kembali, dan Ramadhan adalah ibu kita lengkap dengan tradisi kemengandungannya. Dan bayangkan kita terlahir berulang kali dalam tiap Idul Fitri sejak kita belajar puasa. Telah merasakah kita terlahir ?

Ibu adalah yang melahirkan kita, dan kelahiran adalah momentum. Manusia telah belajar banyak untuk membuat setiap hal, setiap peristiwa sebagai momentum. Agama dan ratusan nilai yang universal telah mengajarkan banyak hal sebagai momentum dan tiap hal itu adalah ibu bagi kita terlahir kembali. Idul Fitri, Natal, Nyepi bahkan Tahun Baru adalah sebuah momentum untuk terlahir kembali. Dan seperti sebuah iklan, jika terlahir adalah pasti, maka menjadi baik adalah pilihan, dan anda pasti memilihnya.

Ibu adalah yang melahirkan kita. Hari ’Ibu’ yang akan datang adalah sebuah momentum besar untuk memulai sebuah kelahiran pemahaman tentang ibu. Tulisan ini sama sekali tidak ditujukan bagi penyederhanaan makna ’ibu’. Tulisan ini bahkan ditujukan bagi penyetaraan ’ibu’ dengan ratusan ibu yang lain.

Ibu adalah yang melahirkan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: