Sang Mawar

mawar_2.jpg

“…Apakah arti sebuah nama ?
Setangkai mawar, meski disebut dengan ratusan nama lainnya, tetaplah menawarkan keharuman…”.
~ Romeo and Juliet, Shakespeare

Semalam, seorang kawan dekat saya menelepon saya untuk menceritakan sebuah kegagalan yang dialaminya. Mengakui sebuah kegagalan adalah sesuatu yang teramat berat. Di tengah situasi di mana orang-orang lebih sering mengklaim sebuah keberhasilan adalah berkat jasanya, kawan dekat itu justru mengakui kegagalannya. Di tengah situasi di mana orang-orang lebih mencari pembenaran atas kegagalan yang seharusnya dia akui, kawan dekat saya justru mengakuinya dengan lapang dada. Di tengah situasi di mana orang-orang mengakui keberhasilan atas usaha dan jerih payah orang lain, kawan saya, kawan dekat saya itu, justru mengakui kegagalannya.

Namun begitu, seorang kawan juga berkata, bahwa semua orang pasti mengakui kegagalannya. Itu sebuah keniscayaan, karena pengakuan kegagalan sifatnya sangat pribadi. Ia merupakan bahasa hati yang sangat mungkin tak terdengar. Ia ~pengakuan kegagalan itu~ dapat saja muncul dengan pencarian pembenaran untuk kegagalan itu. Ia ~pengakuan kegagalan itu~ dapat saja muncul melalui kekecewaan yang lantas terlihat sebagai pengkambinghitaman orang lain. Sebuah fakta yang sangat jelas nampak adalah bahwa semakin kita menyangkal sebuah kegagalan, semakin jelas, bahwa kita tengah mengakuinya.

Tuhan menciptakan kita ~meski dengan penciptaan yang sempurna~ dengan potensi kegagalan yang demikian besar. Karena itu, bersyukurlah kita yang pernah merasa gagal, seperti halnya bersyukurlah ketika kita sakit kepala, karena artinya, kita masih punya kepala. Namun, di atas itu semua, saya menjadi tertarik untuk menulis tentang kegagalan dari jendela yang lain. Mengapa kita disebut gagal. Karena kita menciptakan takaran dan ukuran dalam tiap kegiatan kita. Takaran dan ukuran itulah yang menakar dan mengukur kemampuan kita. Tentu saja bukan sebuah hal yang salah jika kita membuatnya. Itu penting dan menjadi sangat penting bagi tempat kita berkaca. Namun, jangan terlampau bersedih, jika kita gagal, karena ukuran dan takaran yang kita buat (atau dibuatkan organisasi untuk kita) seringkali terlampau berat untuk kemampuan dan kewenangan kita. Pun jangan terlampau berbangga hati, jika kita berhasil, karena bisa jadi ukuran dan takaran yang kita buat (atau dibuatkan organisasi untuk kita) terlampau kecil untuk kemampuan dan kewenangan kita.

Di setiap saat menjelang Valentine Day, stasiun televisi berlomba menyajikan tontonan khas Valentine yang telah diputar berulang-ulang, film Romeo and Juliet. Namun, setiap kali itu juga saya begitu menikmatinya. Bukan ceritanya benar yang saya nikmati, karena kisah cinta yang sama telah banyak melegenda di ratusan tempat di bumi ini, termasuk beberapa tempat di Indonesia. Yang demikian saya nikmati adalah dialognya, tiap syairnya yang agung, yang dalam film itu justru tampil dalam dialektika yang sangat berbeda. Namun, di atas semua keindahan yang ditampilkan film itu, justru dialog tunggal (tepatnya monolog, namanya) yang dilakukan Juliet di tepi kolam renang dalam keheningan malam, tatkala kerinduannya pada Romeo mengalir teramat deras, yang demikian menarik hati saya. Saat itu, Juliet belum menyadari Romeo berada di dekatnya setelah dia dengan nekat memanjat tembok yang demikian tinggi. Monolog itu terkenal sekali, “…Apakah arti sebuah nama ? Setangkai mawar, meski disebut dengan ratusan nama lainnya, tetaplah menawarkan keharuman…”. Setangkai mawar, bagi saya adalah tamsil bagi keindahan, kesederhanaan dan keharuman. Dan mawar dengan seluruh pesonanya tidak akan pernah hilang, meski ia disebut dengan ratusan nama lain. Sedang bunga bangkai (namanya Raflesia) tetaplah busuk baunya, meskipun seluruh orang di dunia dipaksa menyebutnya mawar.

Kawan-kawan, bahasa yang paling sederhana untuk itu semua adalah, bahwa kita tetap akan dipandang atas pesona yang kita miliki, pun dalam kita bekerja. Bahwa kita mampu bekerja dengan baik dan menorehkan ratusan prestasi, itu tetap akan dikenang sesama, meski waktu (melalui seluruh perangkat yang dipunyai organisasi) menempatkan kita sebagai bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Dan bahwa kita tidak mampu melalukan apapun dalam tugas kita, dengan sepenuh kemampuan dan kewenangan kita, kita juga akan dicibirkan sesama kita, meski waktu (masih melalui seluruh perangkat yang dipunyai organisasi) menempatkan kita pada tempat yang teramat layak.

Akhirnya, sebuah bait indah yang ditulis Kahlil Gibran dalam Sang Nabi ingin saya tawarkan bagi Anda, “…kerja adalah cinta yang mengejawantah, dan barangsiapa tidak mampu bekerja dengan penuh suka cita, maka lebih baik dia berdiri di depan gapura candi dan menerima darma dari mereka yang bekerja dengan penuh cinta…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: