Putih Saja
Ada yang merhatiin iklan Lebaran TELKOM?
Sebuah kelas yang baru dimulai. Sang Guru mengingatkan muridnya akan tugas menggambar dan bercerita tentang Lebaran yang dia lalui. Semacam liputan kali ya?
Murid pertama ~gemuk dan gembul~ menggambarkan Lebaran sebagai ketupat dan opor ayam. Nikmat rasanya menikmati Lebaran sebagai kebebasan menyantap hidangan istimewa. Gak salah bukan?
Murid kedua ~seorang anak perempuan~ menggambarkan Lebaran sebagai indahnya silaturahim (baca : komunikasi). Dia bahkan mencantumkan telepon dalam gambarnya. Di sesi inilah TELKOM memasukkan unsur promosinya. Ini juga betul.
Murid ketiga ~seorang anak laku-laki~ menggambarkan Lebaran sebagai wisata (naik mobil bak terbuka, rame-rame bareng keluarga) dan angpao. Ini juga gak salah sama sekali.
Murid terakhir ~masih seorang anak laki-laki~ menggambarkan Lebaran sebagai secarik kertas putih, bersih, kosong tanpa gambar. Gurunya sempet melongo dan tertegun, sampai akhirnya sang murid berkata,
“Kata Ayah, lebaran artinya kembali suci …”
Penggambaran yang istimewa. Saya berharap, penggambaran terakhir ini bukanlah akhir yang menafikan, meniadakan gambaran sebelumnya. Lebaran tetap saja Lebaran. Dia telah memiliki tradisinya sendiri, bahkan untuk setiap orang yang menikmatinya.
Lebaran adalah kebebasan. Lebaran adalah mudik. Lebaran adalah persuaan banyak orang. Lebaran adalah uang angpao. Lebaran adalah saling bermaafan.
Namun, Lebaran adalah juga kembali suci. Telah seperti itukah kita?
This entry was posted on 4 Oktober 2008 at 10:12 am and is filed under Artikel, TelCo. You can subscribe via RSS 2.0 feed to this post's comments.
You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.
4 Oktober 2008 at 3:57 pm
No comment deh… *dari seseorang yang ngerasa Ramadhan kali ini tidak menjadikan dirinya lebih baik*
6 Oktober 2008 at 9:12 am
putihhhh….bersihhhh….