Putih Saja

Ada yang merhatiin iklan Lebaran TELKOM?

Sebuah kelas yang baru dimulai. Sang Guru mengingatkan muridnya akan tugas menggambar dan bercerita tentang Lebaran yang dia lalui. Semacam liputan kali ya?

Murid pertama ~gemuk dan gembul~ menggambarkan Lebaran sebagai ketupat dan opor ayam. Nikmat rasanya menikmati Lebaran sebagai kebebasan menyantap hidangan istimewa. Gak salah bukan?

Murid kedua ~seorang anak perempuan~ menggambarkan Lebaran sebagai indahnya silaturahim (baca : komunikasi). Dia bahkan mencantumkan telepon dalam gambarnya. Di sesi inilah TELKOM memasukkan unsur promosinya. Ini juga betul.

Murid ketiga ~seorang anak laku-laki~ menggambarkan Lebaran sebagai wisata (naik mobil bak terbuka, rame-rame bareng keluarga) dan angpao. Ini juga gak salah sama sekali.

Murid terakhir ~masih seorang anak laki-laki~ menggambarkan Lebaran sebagai secarik kertas putih, bersih, kosong tanpa gambar. Gurunya sempet melongo dan tertegun, sampai akhirnya sang murid berkata,

“Kata Ayah, lebaran artinya kembali suci …”

Penggambaran yang istimewa. Saya berharap, penggambaran terakhir ini bukanlah akhir yang menafikan, meniadakan gambaran sebelumnya. Lebaran tetap saja Lebaran. Dia telah memiliki tradisinya sendiri, bahkan untuk setiap orang yang menikmatinya.

Lebaran adalah kebebasan. Lebaran adalah mudik. Lebaran adalah persuaan banyak orang. Lebaran adalah uang angpao. Lebaran adalah saling bermaafan.

Namun, Lebaran adalah juga kembali suci. Telah seperti itukah kita?

Explore posts in the same categories: Artikel, TelCo

Tags: ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

2 Comments on “Putih Saja”

  1. Anis Says:

    No comment deh… *dari seseorang yang ngerasa Ramadhan kali ini tidak menjadikan dirinya lebih baik*

  2. rindu langit Says:

    putihhhh….bersihhhh….


Comment: