Ulat

“Kamu masih ulat, serakahlah!”.

Aku terhenyak. Ulat, sebuah kosa kata baru bagiku jika dikaitkan dengan keserakahan. Mungkin aku yang terlalu naïf, atau barangkali aku sekedar pura – pura.

Tapi, kemudian memang aku tidak pernah berhenti memikirkannya. Ulat dan serakah. Seharusnya aku sudah tahu dari dulu, bahwa ulat memang serakah. Anakku yang belum genap lima tahun usianya pun tahu, ulat serakah, pemangsa, perusak dan puluhan kata buruk lainnya.

Pikiranku melompat ketika aku dan anakku bermain di halaman depan rumah. Aku tengah memandangi kolam kecilku, ketika anakku beteriak,

“Pa, bunuh ulat itu, habis pohon kita nanti.”

Aku tersenyum dan menjawab,

“Kakak suka kupu-kupu?”

“Suka.”

“Kupu – kupu yang cantik itu berasal dari ulat.”

Kami lantas larut dalam metamorfosa kupu-kupu, hingga akhirnya, kutanyakan sebuah hal pada anakku,

“Masih mau dibunuh ulat itu ?”

Dia tersenyum dan menggeleng.

Dia mungkin tidak paham benar, namun dia mengerti, bahwa kupu – kupu yang indah itu justru terlahir dari ulat yang menjijikkan dan cenderung merusak dan dia tidak mau kehilangan itu.

“Kamu masih ulat, serakahlah!”.

Kembali kepada ulat dan keserakahan, aku lantas tersenyum. Manusia memang tidak berbeda dari ulat. Dia melewati tahapan – tahapan metamorfosa yang membuatnya berbeda dari waktu ke waktu. Tapi, buat memilih jadi ulat aku tidak berani. Takut ketentho, terbawa – bawa dan akhirnya aku bahkan takut tak dapat menjadi kupu – kupu.

Jadi ?

Explore posts in the same categories: Artikel

Tags: , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

One Comment on “Ulat”

  1. Ferryandy Says:

    Kupu-kupu memang terlhat menjijikan, tapi jangan lihat dari menjijikannya, Lihat perjuangannya dari untuk menjadi sesuatu yg cantik dan menyanangkan proses nya cukup lama untuk mencapai tujuannya itu ulat harus rela matisuri menjadi kpompong dan akhirnya dia bisa merubah pendirian yg membecinya kini menjadi menyukainya yaitu menjadi kupu-kupu, itulah philosophi ulat & kupu-kupu… betul bapak tadi yg menginatkan anaknya pada kupu-kupu sehingga si anak menjadi mengurungkan niatnya untuk membunuh ulat tadi, kalo manusia mengambil contoh dari kehidupan Kupu-kupu pasti akan banyak yg berhasil melewati kesusahan dan rasa hina yg melekat pada dirinya.


Comment: