moumtaza telah melakukan pemindahan sebagian besar content http://moumtaza.wordpress.com ini ke
terima kasih.

moumtaza telah melakukan pemindahan sebagian besar content http://moumtaza.wordpress.com ini ke
terima kasih.
Masih inget rencanaku di YOGYA Sabtu kemarin? Sabtu itu aku jadi ketemu Pak Yusril dan bicara banyak tentang internet session yang kutawarkan. Begini kira-kira tulisannya.
Sebenarnya acara sore itu adalah Parent’s Meeting. Sebuah event yang diselenggarakan MEG untuk membangun hubungan yang mesra dengan orang tua anak didik, serta membahas hal-hal penting, terutama terkait dengan perkembangan proses belajar.
Acara sore itu juga berawal dari sebuah Parent’s Meeting di sebuah hari pada bulan puasa lalu. Saat itu aku tengah mengantar Moumtaza kecil (Zakya si cerewet, kata Miss Riyanna) untuk sebuah test masuk. Pak Yusril menyampaikan beberapa hal penting terkait dengan Bahasa Inggris dan Internet. Saya hampir tidak percaya ketika itu. Namun, ketika kami bercerita panjang dan berkenalan, saya jadi mafhum. Beliau adalah wartawan senior, bahkan redaktur senior sebuah majalah mingguan ternama di negeri ini.
Saat itu, beliau bercerita tentang ranking perguruan tinggi di Indonesia yang di urutan buncit dalam percaturan perguruan tinggi dunia. Beliau juga bercerita tentang internet dan ajakan untuk menggunakannya dalam mempercepat pemahaman bahasa Inggris. Luar biasa. Saya, sebagai salah satu karyawan penyedia layanan akses internet tergerak untuk menyambutnya. Dan kemudian, melalui sebuah email, saya menawari beliau untuk membuat sebuah event kecil bertajuk Internet Session.
Hari ini (09/11), event kecil itu berlangsung. Meriah, meski hanya dihadiri sekitar 30 orang tua anak didik. Internet memang menarik. Dan sore itu, kami ~saya dan tim dari perusahaan itu~ menyiapkan layanan akses internet terbaik kami untuk digunakan demo internet bagi para orang tua murid. Menarik, karena kemudian semua mencoba : membuat email, bermain game dan membuka situs pelajaran bahasa Inggris.
Pak Yusril dan MEG memang mewajibkan seluruh anak didiknya memiliki email, memberi tugas untuk googling atau sekedar mengunjugi situs tertentu. Ini, kata beliau, langkah awal untuk mempercepat proses menuju dunia global …
Terima kasih, Pak, telah memberikan kesempatan kepada kami untuk turut dalam sebuah kebaikan.
Film ini sebagaimana novelnya, memang luar biasa.
Film dan novel ini bertutur tentang mimpi. Mimpi yang terus dikenang, mimpi yang dipanjatkan dengan doa, mimpi yang diupayakan dengan usaha keras dan tanpa menyerah. Dalam sebuah talk show dalam Bedah Buku yang diselenggarakan TELKOM Bekasi, Andrea pernah ditanya, “apa yang membuat Anda dapat memenuhi semua mimpi, terutama yang terkait dengan kami sebagai pelajar?“
Andrea menjawab, “Tidak pernah seharipun dalam waktu sekolah, kami membolos. Lintang menempuh 40 km dan harus melewati jalan yang juga dilewati buaya dengan sepedanya untuk mencapai sekolah. Tapi, tidak seharipun dia membolos.“
“Saya“, lanjut Andrea, “bukanlah anak yang cerdas. Tapi, karena kesadaran itu, saya belajar dengan giat. Saya betah duduk membaca buku, nyaris tanpa henti, lima jam. Sekolah bagi kami adalah tempat membangun mimpi dan menyusun bata untuk mewujudkannya. Dalam tidur kami, kami ingin selalu hari cepat berganti pagi, hingga kami dapat kembali bersekolah dan melanjutkan mimpi yang sebenarnya.“
(beberapa kalimat telah mengalami penyesuaian dari jawaban Andrea yang sebenarnya)
Laskar Pelangi menawarkan mimpi dan semangat untuk terus menggenggamnya. Sebagaimana Syahdan yang meski telah mencapai posisi tinggi di sebuah perusahaan IT, tetap bermimpi untuk menjadi seorang aktor.
———–
Film dan novel ini juga menawarkan semangat pantang menyerah. Saya jadi ingat, hasil rapat istri saya di sekolah anak-anaknya. Ketika ditanyakan, mengapa anak-anak cenderung menurun prestasi belajarnya, sang Guru (pihak seolah) justru mengajukan argumentasi keterbatasan yang dimiliki, kesulitan yang dihadapi dan belukar tantangan yang tumbuh menjalar.
Aku cuma bergumam, “Mestinya mereka membaca novel ini atau melihat filmnya … “
Sabtu ini (08/11), usai nerima banyak komplain soal Hotspot di TOSERBA YOGYA Purwakarta yang ga bisa dipake, TELKOMHotspot di lokasi yang selalu rame itu jalan lagi. Ternyata, kurasakan hanya disebabkan oleh kabel DW yang kejepit pintu. Wallah …
Sambil makan rujak cingur, siang itu kami berempat mbenerin Hotspot. Dan berhasil. Tiga orang user yang ternyata dah nunggu dari pagi, akhirnya seneng bisa internetan lagi. Seneng rasanya bikin orang seneng. Itu juga yang dirasakan kawan saya di TYP.
Siang itu, saya nawarin, gimana kalo hotspot ini berbayar. User yang mo make harus mbayar dengan beli kartu prepaid. Saya udah janjikan harga khusus, agar TYP juga untung.
Dia malah menggeleng. “Kami tetep ingin layanan ini gratis, karena itulah daya tarik TYP yang belum dimiliki TOSERBA lainnya di Purwakarta“.
“Ga papa, kalo kemudian TELKOM kenakan tarif untuk Hotspot ini?” kataku.
“Ga masalah. Kami akan patungan dengan tenant food court untuk bayar abonemennya”.
Saya tersenyum. Memang selalu ada harga yang harus dibayar ketika memberikan layanan lebih. Wajar, bukan?
Di beberapa lokasi strategis di Purwakarta, belakang mang dipasang beberapa hotspot baru. Bahkan di seputaran PEMDA, di beberapa TOSERBA dan Hypermart (kaya yang ada aja di Purwakarta
). Sayangnya saya lom tahu nih, dah aktif apa belom. Penginnya sih keliling tiap malem Minggu ngumpulin kawan-kawan yang punya laptop dan nyobain Hotspot di tempat-tempat itu. Sekedar ngasih contoh dan ngramein aja. Sayangnya infonya lom nyampe dari kawan-kawan di Service.
Udah dulu deh, sekarang mau ke Mikha’s English Garden. MEG ini sebuah lembaga kursus bahasa Inggris yang berencana masang Hotspot juga. MEG ini keren, lho. Peserta didiknya dah disuruh bikin email, googling di internet dan ngajak ortu murid untuk juga aktif blajar bahasa Inggris dari internet. Istriku dah ditanyain oleh tiga orang ortu murid soal Speedy. Pasar yang baik, bukan?
Nah, rencananya besok, mo ngadain Internet Session di sana, sekalian ngenalin Speedy. Moga-moga ya .. dapat Pelanggan baru.
Film ini memang luar biasa. Ada dua belas nama besar perfilman terlibat di sana. Di samping itu, ada sepuluh nama yang sebelumnya tidak dikenal siapa-siapa, selain oleh orang tua, saudara atau tetangga mereka saja. Sepuluh nama itu adalah anak-anak asli Belitung (Andrea menyebutnya Belitong, dengan pengucapan o seperti pohon) yang memerankan anak-anak anggota Laskar Pelangi. Mereka bukan artis sinetron, apalagi layar lebar. Beberapa di antara mereka, bahkan tidak memiliki televisi di rumahnya. Namun, mereka seperti perwujudan sebenarnya anak-anak Laskar Pelangi. Tidak kenal menyerah!
Ya. Mereka tidak kenal menyerah untuk belajar memerankan orang lain. Tokoh Lintang teramat pantas memerankan keletihan mengayuh sepeda, namun dengan kegembiraan bermain bersama matahari. Ferdian, nama tokoh itu dengan pantas memancarkan kecerdasan seorang jenius, kasih sayang seorang anak sulung dan hormat seorang anak pada Ayahnya. Ferdian menampilkan semangat tak terkira, namun ketakutan luar biasa pada buaya yang menghalang jalan.
Mahar juga sempurna diperankan Verrys Yamarno. Sempurna sebagai seniman aneh, percaya tahyul dan penuh ide liar dan gila. Hal yang bagiku sayang adalah eksploitasi Mahar yang kurang memadai. Aku berharap ada Republik Dangdut. Tapi, aku sadar, adalah sebuah kesulitan besar mewujudkannya.
Ikal? Zulfany terlalu pendiam bagiku. Mungkin karena aku melihatnya sebagai Andrea Hirata yang bertutur lancar dalam novel. Tokohnya barangkali memang pendiam. Hanya bersuara lewat hati yang jernih, namun dengan pilihan kata yang luar biasa, seperti halnya puisinya tentang surga yang mengalahkan nilai Mahar, sang seniman sejati. Aku bahagia mendengarkan puisi itu dibacakan tiga anak yang turut menonton dalam Nonton Bareng Laskar Pelangi yang diselenggarakan oleh TELKOM DIVRE II di Bekasi, Ahad 2 November ini.
Cut Mini, yang paling kuanggap luar biasa untuk memerankan Bu Mus. Semangat, simpati, kekecewaan, keletihan, kesedihan, kegembiraan yang terpancar persis seperti yang kutangkap di novelnya. Juga Ikranegara. Selebihnya ? Pelengkap yang tetap luar biasa !