Butterfly on a Wheel

Posted 7 November 2009 by moumtaza
Categories: Resensi

Tags: ,

film-butterfly-on-a-wheel-oHari Sabtu ini aku menyengaja di rumah. Biasanya, hari ini jatahku mengantar anak-anak sekolah. Tapi, pas mau membuka pintu belakang dan mengeluarkan motor, tanganku masih, bahkan malah, terasa sakit. Usai kemarin jatuh terpeleset bersama motor di jalanan yang licin karena hujan dan oli, aku memilih istirahat. Ada beberapa SMS pekerjaan yang kudisposisikan kepada kawan-kawan. Ada pula SMS pemberitahuan kecelakaan kecilku kepada seorang sahabat yang dijawab dengan SMS sederhana, “… tapi gak papa kan …”

Usai terlelap sebentar karena nyeri yang tak tertahankan, aku menikmati sebentar film Butterfy on a Wheeldi Star Movie. Letih rasanya menikmati TV hanya dengan berita KPK dan Kepolisian. Hanya sekedar beralih, sebenarnya. Pierce Brosnan, bintangnya. Tampil berbeda dari biasanya, dengan kebengisan yang luar biasa sebagai penculik. Akhirnya, di ujung cerita, kebengisan itu justru luruh oleh kegalauan dan kegelisahan yang luar biasa.

Butterfly on a Wheel seolah-olah film drama penculikan yang menegangkan. Kusebut seolah-olah, karena semuanya sandiwara belaka. Ini, bahkan, petikan dari Lampung Pos :

FILM ini dibintangi Pierce Brosnan, Maria Bello, Gerard Butler, dan Callum Keith Rennie. Mengisahkan tentang keluarga muda Chicago, Neil Randall (Gerard Butler) dan istrinya Abby Randall (Maria Bello). Mereka memiliki kehidupan pernikahan yang sempurna dan ketenangan bersama putri semata wayang mereka, Shopie (Emma Karwandy), yang berusia lima tahun.

Saat itu Neil, seorang eksekutif marketing, tengah berada di puncak karier dan ia tak kuasa menolak undangan bosnya untuk menghabiskan akhir pekan di sebuah vila. Sebuah rumor sempat beredar bahwa siapa pun yang diundang si bos ke vilanya, biasanya akan dapat promosi jabatan. Padahal saat itu adalah hari ulang tahun Abby, istrinya yang penuh kasih sayang dan cantik.

Dengan alasan tidak ingin mengacaukan kesempatan untuk promosi jabatan itu, rencana pun disusun. Neil memenuhi undangan bosnya, Abby bersenang-senang bersama temannya, dan si kecil Shopie diurus oleh pengasuh sewaan.

Akhir pekan itu tiba. Setelah babysitter tiba, mereka berdua pun pergi mengendarai mobil. Neil berencana mengantar Abby ke tempat temannya sebelum dia berangkat ke luar kota. Tiba-tiba saja, dari jok belakang Range Rover itu, muncul Tom Ryan (Pierce Brosnan), sang psikopat yang menyatakan telah menculik Shopie.

Dari jok belakang, Ryan membuat Neil dan Abby harus menuruti semua perintahnya, yang kadang tak masuk akal. Aku hampir tidak percaya menyaksikan bagaimna film ini berujung.

Aku bahkan memilih untuk tidak mencatatnya di sini, dan membiarkan Anda melihatnya suatu saat. Aku lebih tertarik sebuah bait puisi di dalam sebuah buku yang telah dipersiapkan sang penculik di atas sebuah gedung bertingkat. Buku puisi karya Alexander Pope, Epistle to Dr Arbuthnot. Butterfly on a Wheel adalah seuntai kalimat di dalamnya. Dalam baris ke-308 puisi tersebut, Pope menuliskan “Who breaks a butterfly upon a wheel”. Mematahkan kupu-kupu di atas roda adalah interpretasi untuk sebuah pertanyaan, mengapa seseorang melakukan usaha yang merusak demi mendapat sesuatu yang kecil bahkan sama sekali tidak penting.

Ya, betapa banyak kita telah melakukan banyak hal merusak ~bahkan seringkali dilakukan dengan sungguh-sungguh~ untuk sesuatu yang tidak berarti …

Selamat Jalan, Saudaraku

Posted 5 November 2009 by moumtaza
Categories: Buah Hati

Tags: , ,

selamat jalan, saudaraku
berbahagialah menjadi tamuNya
menjadilah tamuNya yang ridho dan diridhoi

selamat jalan, saudaraku
selamat menapaktilasi Sang Khalil Ibrahim
selamat memanasiki haji yang agung

selamat jalan, saudaraku
sertakan kami dalam setiap doamu
untuk berkunjung ke Makkah Mukaramah dan Madinnah Munawarah
dan berziarah ke maqam Sang Musthofa, Muhammad

sertakan kami dalam setiap doamu
yang dipanjatkan di tempat-tempat paling mulia

di maqam Rasul
sampaikan salam kami

di raudhoh, taman surga
doakan kami, Allah himpunkan segala kebaikan

di Multazam
tangiskan istighfar
dan luruhkan tiap dosa

di Maqam Ibrahim
panjatkan doa-doa kami ke Arsy yang Agung

di Hijir
kami titipkan sholat sunnah
seolah kita berada di dalamnya

di Arafah
tempat kita menghisab dan mengenal diri
lantunkan segala dzikir

selamat jalan, saudaraku
semoga Allah mabrurkan haji …

Berani Kalah

Posted 1 November 2009 by moumtaza
Categories: Buah Hati

Tags:
m-P1060177

Zulfa, sang Sulung, Jumat malam itu bercerita tentang bazaar buku di sekolahnya, SDI Al Ghozali.

“Pa, ada buku-buku karya anak-anak. Kecil-kecil punya karya. Aku besok mau beli, ah. Pinjam uang Papa dulu, ya”.

Aku tersenyum. Zulfa memang berbeda dengan adiknya Kya. Ketika mereka mendapatkan uang Lebaran dari Kakek dan Mbahnya, juga Budenya, Kya langsung sudah merencanakan membeli mainan dan baju renang. Kakaknya justru minta diantar ke Gramedia untuk membeli buku. Dan kali ini, ketika uang tabungannya masih tersisa, dia justru mau pinjam uang dulu ke Papanya.

Esoknya, Sabtu, ketika aku menjemput mereka dari sekolah, Kakak mengajakku ke bazaar itu dan memilih beberapa buku cerita. Pilihannya adalah Chocolate Milk yang dikarang oleh Penulis Kumpulan Cermen Termuda yang dikukuhkan MURI. Namanya Qurrota Aini (biasa dipanggil Aini). Penulis belia yang lahir 25 Maret 1997 itu telah menulis empat buku hingga tahun 2008 lalu. Luar biasa.

Ketika tengah memilih itulah, aku sempat membaca cerpen pertama di buku itu. Judulnya Berani Kalah. Bertutur tentang sekelompok anak sekolah yang mengikuti Lomba Agustusan (istilah ini digunakan Aini di bukunya), yakni tarik tambang.

Berani Kalah bertutur dengan sangat lugas, bagaimana keberanian juga diperlukan untuk menghadapi kekalahan, termasuk ejekan, kata-kata hinaan dan sejenisnya. Namun, keberanian untuk menerima kekalahan sama sekali tidak menyebabkan Shira (tokoh utama dalam Cerpen itu) dan kawan-kawannya menyerah tanpa usaha. Shira bahkan rela berlecet-lecet tangan ketika berlomba.

——————————

Aini tengah mengajari kita banyak hal, terutama untuk bersiap menerima kekalahan. Aini menyadarkan kita, bahwa menerima kekalahan menunjukkan betapa kita tetap rendah hati untuk menerima keadaan, bahwa orang lain lebih baik. Menerima kekalahan seharusnya membuat kita malu ketika kita merasa harus selalu menang dan memilih cara apapun untuk selalu menang …

POLING (Pocong Keliling)

Posted 31 Oktober 2009 by moumtaza
Categories: Buah Hati

Tags: ,

Beberapa hari ini, kampung kami tengah digemparkan sebuah kabar, yakni adanya POLING atau pocong keliling. Beberapa orang mengakui pernah melihat dan merasakan keberadaannya. Ada orang lewat malam-malam di kebun kopi dan melihat cewek berambut panjang. Saat ini, orang itu jatuh sakit. Sekumpulan peronda merasa diganggu oleh makhluk ghaib itu dengan memadamkan dan menyalakan lampu pos ronda. Beberapa tetangga mengakui, pintu dan kaca diketuk malam-malam dan ketika dilongok tidak ada siapa-siapa.

Sebenarnya bukan kabar itu yang memusingkanku. Namun, lebih pada dampaknya terhadap anak-anak. Zulfa, sang kakak yang biasanya nyaman tidur sendiri, bahkan keluar kamar untuk ke kamar mandi atau ambil air minum, sekarang justru minta dikawani adiknya. Dan, adiknya, Zakya, lebih parah. Tidak mau tidur bareng Kakaknya, namun justru tidur bareng kami.

Akhirnya, beberapa malam ini, kamar kami diisi empat orang. Kami, orang tua tidur di atas, dan anak-anak menggotong kasur mereka untuk tidur di bawah. Saya sudah kehabisan akal untuk menjelaskan kepada mereka. Entah dengan cara apalagi. Mungkin waktu yang akan membuat mereka sadar dari ketakutannya. Wuih … puasa dulu kali ya … :P

 

Duh, Terima Kasih ya Allah

Posted 31 Oktober 2009 by moumtaza
Categories: Buah Hati

Tags: ,

Hari Sabtu, sejak aku pindah kerja ke Bekasi, menjadi hari yang lebih menyenangkan. Hari yang dapat kugunakan sepenuhnya membalas kegagalanku mengatur waktu untuk selalu bersama keluarga. Dulu, saat masih kerja di Purwakarta, Sabtu bahkan Minggu adalah hari kerja. Kesadaran, bahwa kau yang paling dekat dengan lokasi, membawaku pada keniscayaan untuk menengok kawan-kawan bekerja di hari-hari libur.

Kini, kebiasaanku untuk mengantar anak-anak sekolah hilang sudah. Biasanya, sebelum jam 7, aku sarapan bareng anak-anak, mengantar mereka sekolah dan langsung berangkat kerja. Dan kini, hari Sabtu menjadi hari wajibku mengantar mereka. Senang rasanya, membiarkan Kya bernyanyi di depanku (dia berdiri di sisi depan motor) dan Zulfa menimpalinya.

jihadOh ya. Ada perkembangan menarik terhadap Kya. Kya dua pekan lalu dinobatkan sebagai pemegang piala bergilir Buku Jihad. SD Al Ghozali, tempatnya belajar bersama Kakaknya mentradisikan sebuah Buku Jihad yang mencatat kegiatan ibadahnya di rumah : sholat, tadarus dan sejenisnya. Ummunya yang mengisi. Tiap malam dia menyetor tadarusnya.

Rasanya, aku memang harus selalu bersyukur. Allah menukar keburukan dengan kebaikan, menukar kesulitan dengan kemudahan, menukar banyak hal hilang dengan nikmatNya yang tak terkira. Dan, aku tidak kehilangan sahabat sejati, yang tetap menemaniku dengan doa dan persahabatan yang tulus …